BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Tembakau diketahui oleh Colombus yang berlayar mengelilingi dunia pada tahun 1492. Beliau menemukan benua Amerika dan mendarat di pulau Sansalvador. Belaiu menemukan suku Indian yang menghisap dadaunan dan bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka mengatakan dengan menghisap dadaunan itu mereka dapat merasakan nikmat, ngantuk, mabuk, mengurangi kelelahan (segar) dan juga mengobati penyakit.

Tanaman tembakau berwarna hijau, berbulu halus, batang, dan daun diliputi oleh zat perekat. Pohonnya berbatang tegak dengan ketinggian rata–rata mencapai 250 cm, akan tetapi kadang–kadang dapat mencapai tinggi sampai 4 m apabila syarat–syarat tumbuh baik. Umur tanaman ini rata–rata kurang dari 1 tahun. Daun mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga berbentuk terompet panjang, daunnya berbentuk lonjong pada ujung runcing, dan kedudukan daun pada batang tegak.

Tembakau mempunyai nilai ekonomi tinggi dan berperan dalam pendapatan usaha tani. Di Indonesia, terdapat berbagai jenis tembakau yang diproduksi, misalnya Virginia (atau Flue-cured), Burley, Rajangan, tembakau yang dikeringkan matahari dan udara, serta tembakau untuk cerutu. Namun ada beberapa faktor khas Indonesia yang membuat jenis tembakau di Indonesia sulit dikelompokkan menjadi jenis Virginia, Burley atau Oriental. Masing-masing daerah penghasil tembakau di Indonesia biasanya memiliki jenis tembakau yang unik, disebabkan oleh kondisi maupun budaya setempat. Oleh karena itu, tembakau biasanya dinamakan menurut daerah asalnya, misalnya Temanggung, Garut, Boyolali, dan lain sebagainya. Lebih dari 100 jenis tembakau dihasilkan di Indonesia, dan 70% dari 200 juta kilogram tembakau yang diproduksi di Indonesia merupakan jenis Rajangan yang lazim digunakan untuk membuat rokok kretek.

 

1.2  Tujuan

1.2.1   Umum

Memperoleh kemampuan untuk mengendalikan kondisi serta proses pengolahan tembakau di lapang atau dalam gudang pengering maupun sortasi, untuk memperoleh hasil olah sesuai dengan tujuan pengolahan.

 

1.2.2   Khusus

  1. Dapat melakukan sortasi daun tembakau basah/hijau dan kering/krosok dari jenis tembakau sigaret maupun cerutu (tembakau besuki naoogst atau besmo dan tembakau bawah naungan atau TBN) yang telah disediakan, berdasarkan ukuran panjangnya, kemudian menuliskan kelas ukurnanya.
  2. Dapat mengukur lebar dan indeks daun tembakau.
  3. Dapat menggambarkan bentuk dari beberapa jenis daun tembakau.
  4. Dapat membuat bagan kelas panjang ukur daun tembakau di beberapa daerah.
  5. Dapat membuat irisan daun pembalut (wrapper, deblad) dan pembungkus (binder, omblad) cerutu dengan pola yang sudah ditetapkan dari beberapa macam ukuran.
  6. Dapat menghitung berar nisbi ibu tulang daun (midrib) terhadap berat krosok.
  7. Dapat mengukur sudut yang dibentuk antara ibu tulang daun dengan cabang tulang daun.
  8. Dapat menggambarkan penampang melintang daun tembakau di bawah mikroskop.
  9. Dapat menentukan mutu bakar daun tembakau, yang meliputi: daya pijar, cepat bakar, sempurna bakar.
  10. Dapat menganalisis kadar nikotin tembakau sigaret dan cerutu.
  11. Dapat mengukur alkalinitas abu rokok secara volumetri.
  12. Dapat menentukan mutu daun tembakau berdasarkan warnanya.
  13. Dadat mengukur kadar air tembakau.
    1. Dapat menentukan kandungan klorofil daun tembakau dengan klorofilmeter.
    2. Dapat mengurai/mengorak sigaret/rokok dan cerutu, serta dapat menentukan komposisi sigaret/rokok maupun cerutu.

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Aspek Botani Tanaman Tembakau

Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam tanaman perkebunan. Pemanfaatan tanaman tembakau terutama pada daunnya yaitu untuk pembuatan rokok.

Tanaman tembakau diklasifikasikan sebagai berikut :

Famili : Solanaceae

Sub Famili : Nicotianae

Genus : Nicotianae

Spesies : Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica (Cahyono, 1998).

Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica mempunyai perbedaan yang jelas. Pada Nicotiana tabacum, daun mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga berbentuk terompet panjang, daunnya berbentuk lonjong pada ujung runcing, kedudukan daun pada batang tegak, merupakan induk tembakau sigaret dan tingginya sekitar 120 cm. Adapun Nicotiana rustica, daun mahkota bunganya berwarna kuning, bentuk mahkota bunga seperti terompet berukuran pendek dan sedikit gelombang, bentuk daun bulat yang pada ujungnya tumpul, dan kedudukan daun pada batang mendatar agak terkulai. Tembakau ini merupakan varietas induk untuk tembakau cerutu yang tingginya sekitar 90 cm (Cahyono, 1998).

Dalam spesies Nicotiana tabacum terdapat varietas yang amat banyak jumlahnya, dan untuk tiap daerah terdapat perbedaan jumlah kadar nikotin, bentuk daun, dan jumlah daun yang dihasilkan. Proporsi kadar nikotin banyak bergantung kepada varietas, tanah tempat tumbuh tanaman, dan kultur teknis serta proses pengolahan daunnya (Abdullah, 1982).

 

Gambar 1. Tanaman tembakau (http://discoveringannuals.com/manual.html)

2.2 Macam-Macam Jenis Tembakau dan Pengolahan Secara Umum

Berdasarkan penggunaannya, tanaman tembakau spesies Nicotiana tabacum dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

a)      Tembakau Cerutu

Secara umum tembakau cerutu dikenal ada 3 macam sesuai dengan fungsinya pada pembuatan rokok cerutu yaitu :

  1. Tembakau Pengisi

Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pengisi adalah tembakau Vorstenland. Tembakau ini berdaun banyak sehingga tampak rimbun, warna daun hijau, ketebalan daun tipis sampai sedang, daun terkulai sehingga kedudukannya tampak mendatar dan habitus piramidal.

Krosok tembakau Vorstenland setelah pengolahan berwarna coklat kemerahan. Krosok yang terbaik diperoleh dari daun kaki, sedangkan daun yang berada di atas umumnya digunakan sebagai pembalut dalam industri rokok cerutu.

Budidaya tembakau Vorstenland pada umumnya di lereng kaki gunung Merapi sebelah tenggara, yang terdiri dari tanah vulkanis (tanah abu muda yang berwarna kelabu). Pusat tanaman tembakau berada di sekitar Kabupaten Klaten yang membujur dari arah Solo–Jogya, sedang sebagian lain terletak di sekitar Kecamatan Bangak, yakni antara Kartasura dan Boyolali (Cahyono, 1998).

  1. Tembakau Pembalut

Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pembalut adalah tembakau Besuki. Tembakau ini memiliki sosok ramping dan ketinggiannya sedang sampai agak tinggi. Daunnya berbentuk oval, kedudukan daun pada batang agak tegak, jarak daun satu dengan yang lain agak berjauhan, lebar daun sedang sampai lebar, habitus silindris, ketebalan daun tipis, daunnya lunak, dan memiliki aroma yang khas.

Krosok yang baik dari tembakau Besuki berwarna coklat tua, coklat muda, dan kuning. Daun terbaik untuk pembalut cerutu ataupun pembungkus cerutu adalah yang berasal dari daun kaki.

  1. Tembakau Pembungkus

Tembakau yang biasa digunakan sebagai pembungkus adalah tembakau Deli. Tembakau ini bercirikan dengan keadaan tanaman yang kokoh dan besar dengan ketinggian tanaman sedang, daunnya tipis dan elastis, bentuk daun bulat dan lebar, kedudukannya pada batang tampak mendatar, bermahkota tipe silindris, dan warna daun cerah.

Daun tembakau Deli yang telah mengalami pengolahan dengan pengeringan berwarna coklat agak kelabu yang merupakan ciri khas krosok tembakau Deli. Krosok yang demikian umumnya diperoleh dari daun pasir (daun yang letaknya paling dekat dengan tanah) dan sebagian daun kaki. Warna krosok tersebut sangat berbeda dengan warna krosok tembakau Kuba yang berwarna coklat kemerahan sehingga sangat mudah dibedakan antara tembakau Deli dan tembakau Kuba.

(Matnawi, 1997).

b)      Tembakau Sigaret

Jenis tembakau ini digunakan sebgai bahan pembuatan rokok sigaret, baik sigaret putih maupun sigaret kretek.

ü Tembakau Virginia

Jenis tembakau virginia cukup mudah dibedakan dari jenis yang lain karena memiliki kenampakan (dari daunnya) yang agak berbeda. Tembakau virginia memiliki daun yang berwarna kekuning-kuningan. Bentuk daunnya panjang sampai jorong (elliptical), tetapi terkadang bulat telur (ovalis). Ujung daunnya lancip.

Tembakau virginia yang berkualitas baik, melalui pengolahan daun flue curing akan menghasilkan krosok yang berwarna kuning jingga/limau. Di samping warnanya yang menarik, ciri khas virginia adalah aromanya (Setiadji, 2011).

ü  Tembakau Oriental

Tembakau Oriental memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis tembakau lain yaitu terletak pada aroma yang harum dan khas. Karena aromanya yang khas, tembakau Oriental/Turki juga disebut sebagai aromatic tobacco. Tembakau Turki digunakan oleh semua pabrik rokok sebagai campuran yang dapat meningkatkan mutu rokok sigaret (Abdullah, 1982).

ü Tembakau Burley

Tembakau Burley bercirikan warna daun hijau pucat, batang dan ibu tulang daun berwarna putih krem, daun tergolong ukuran besar (90–160 cm2), tanaman lebih banyak berbentuk silindris daripada piramida, tinggi tanaman sekitar 180 cm. Krosok daun tembakau Burley setelah pengolahan menjadi tipis, berwarna coklat kemerah–merahan, halus dan lunak, serta beraroma sedap (Abdullah, 1982).

c)      Tembakau Pipa

Tembakau pipa dimaksudkan adalah jenis tembakau yang digunakan untuk pipa. Tembakau pipa berasal dari Lumajang yang mempunyai kenampakan yang tinggi, ramping, dengan duduk daun yang mirip dengan varietas tembakau cerutu Besuki maupun Vorstenland.

Hal yang menyebabkan tembakau ini berkualitas tinggi karena memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Ø Warna daunnya terang menyala (bright) kecoklatan hingga coklat merah
  • Ø Daya pijarnya baik sekali, serta
  • Ø Ringan dan kenyal

(Setiadji, 2011).

 

2.3 Tanda-Tanda Mutu Jenis Tembakau Cerutu dan Sigaret

Setiap bagian cerutu memerlukan jenis tembakau dengan sautu persyaratan dan suatu mutu tertentu seperti dapat disebutkan di bawah ini:

1)      Pembalut

ü Daun cukup masak dan sehat

ü Daun utuh, tidak cacat

ü Daun lebar, elastis dan tidak robek

ü Dikehendaki daun dengan panjang lebih dari 35 cm

ü Hasil curing cukup baik

ü Warna seragam (uniform), bersih dan rata

ü Daun tipis dan lemas, halus (supel)

ü Daya pijar baik

ü Rasa dan aroma netral atau aroma sedikit ringan

2)      Pembungkus

ü Daun cukup tua dan sehat

ü Daun boleh sedikit tebal dibandingkan pembalut

ü Daun masih elastis, relatif masih tipis

ü Hasil curing termasuk baik

ü Daun lebar, dikehendaki panjang 30 cm

ü Warna agak rata sampai sedikit kotor

ü Mutu bakar cukup baik

ü Memiliki aroma yang baik, boleh sedikit ringan dan rasa gurih

3)      Pengisi

Pengisi merupakan bagian terbesar dari cerutu, terdiri dari rajangan/irisan krosok. Mutu dapat lebih rendah dibandingkan jenis pembalut maupun pembungkus. Cerutu terdiri dari bagian pengisi 85%, pembungkus 10,5% dan pembalut 4,5%.

  • Pengisi Baik

–     Didapat dari daun yang cukup masak, berisi dan sehat

–     Berasal dari daun agak masak, warna merata

–     Rasa ringan sampai berat, flavor baik

–     Daya bakar baik

  • Pengisi Sedang

–     Didapat dari daun kurang masak

–     Warna tidak begitu rata dan agak gelap

–     Kuat elastis

–     Rasa dapat tajam atau pedas

  • Pengisi Jelek

–     Berasal dari daun kurang masak dan tidak begitu sehat

–     Daun kurang segar, warna kurang besih

–     Didapat dari pengeringan (curing) yang kurang baik

–     Daun dari kelas rendah, rapuh atau agak keropos

–     Aroma kurang sampai jelek karena berasal dari daun yang umumnya kurang bermutu

Tembakau sigaret dibedakan atas tembakau sigaret rokok putih dan rokok kretek. Beberapa syarat umum tembakau sigaret putih:

  • Krosok hendaknya mempunyai panjang minimum 15-20 cm
  • Panjang kurang dari ukuran tersebut masih dimungkinkan, asal tembakau beraroma baik, kesegaran bagus dan harum.
  • Warna berkisar dari kuning cerah, kuning limau sampai kuning keemasan.
  • Mempunyai tekstur baik, halus, pegangan baik, lemas atau supel dan tidak terasa kaku
  • Mempunyai daya isi yang baik
  • Daya bakar bagus dengan rasa ringan
  • Kandungan nikotin diharapkan kurang dari 1,0%

Sedangkan tembakau kretek memiliki persyaratan umum:

  • Tembakau dalam bentuk rajangan halus sampai kasar.
  • Tembakau rajangan umumnya berdaun relatif tebal. Daun-daun tebal diperoleh dari bagian daun tengah sampai pucuk.
  • Warna daun tergantung jenis/varietas tanaman, umumnya warna coklat tua sampai coklat kehitaman.
  • Body berat, bersifat aromatik harum/bau manis
  • Daun seolah bergetah, mengkilap sedikit berminyak.
  • Rasa harus tidak beriritasi nyegak (menyebabkan batuk).
  • Daya bakar, artinya tidak cepat padam bila dirokok.

(Setiadji, 2011).

 

2.4 Hal-Hal yang Mempengaruhi Mutu

Penilaian mutu tembakau tidak terlepas dari sifat dasar tembakau sendiri sebagai sifat intrinsik, tujuan penggunaan, dan akhirnya kepuasaan konsumen, sehingga mutu tembakau mencapai aspek yang sangat luas sekali.

Unsur-unsur yang berpengaruh terhadap mutu tembakau dan yang dapat digunakan sebagai pengukur mutu tembakau antara lain:

  • Ukuran, bentuk dan letak daun

Merupakan unsur mutu yang penting karena menentukan rendemen yaitu banyaknya daun yang akan dibuat dari tipa-tiap helai daun. Selain itu merupakan pertimbangan untuk komponen rokok cerutu. Daun berdasarkan letaknya mulai dari bawah ke atas terdiri dari, daun koseran (1-5 helai), daun kaki (6-13 helai), daun tengah (14-22 helai), dan daun pucuk (sekitar helai atau lebih). Bentuk daun koseran umumnya tipis dan bulat, daun kaki agak tebal dan bulat, daun tengah tebal dan bulat panjang, sedangkan daun pucuk paling tebal dana agak memanjang.

  • Tulang dan lamina

Rangka daun terletak tepat di bagian tengah daun disebut ibu tulang daun atau midrib. Cabang tulang daun sekunder terletak menyirip lebih disebelah kiri kanan midrib. Cabang sekunder bercabang lebih kecil atau sebagai anak cabang yang saling bertemu membentuk tenunan. Bagian kiri dan kanan midrib berupa suatu lembaran daun, disebut lamina daun. Bagian midrib proposi beratnya rata-rata 25% dari berat daun.

  • Tenunan Daun

Sifat tenunan daun pada beberapa jenis tembakau mempunyai arti penting dalam penilaian mutu. Tenunan halus dikehendaki untuk tembakau cerutu pembalut maupun pembungkus, karena diharapkan menghasilkan aroma yang baik, dan rasa ringan. Pada tembakau pangisi, tenunan daun tidak banyak berpengaruh. Tenunan yang halus dan teratur dapat menyebabkan rata dan baiknya pembakaran.

  • Tebal Daun

Tebal daun rata-rata dihitung dari bagian epidermis atas sampai epidermis bawah sekitar 200-400 mikron. Helaian daun tembakau, tipis pada bagian pangkal dan pada daerah dekat pusat dan agak berkurang dari midrib. Tebal daun dipengaruhi letak daun pada batang. Semakin ke atas letak daun pada batang, semakin tebal daun tersebut.

  • Kepadatan Jaringan

Adalah suatu keadaan struktur dan tekstur daun. Keadaan kering menyebabkan terbentuknya sel-sel yang kecil dan berbutir. Keadaan kering mampat (close grained), dengan ruang sel yang kecil. Dikatakan tekstur yang mampat karena sifat bakarnya cenderung kurang baik. Lebih disukai tekstur yang longgar/terbuka (open grained). Tembakau yang dipetik tepat masak dan dikeringkan dengan baik memiliki struktur dalam berpori/butiran (grain). Butirannya berkembang baik mempunyai sifat bakar yang baik.

  • Berat per satuan luas

Berkurangnya rendemen akan mengakibatkan penurunan mutu. Rendemen krosok umumnnya 12-16%, tembakau virginia 14,3-16,6%, tembakau yang diolah secara curing atau pepean (sun drying) sekitar 8-12%. Tembakau rakyat rajangan, pepean menghasilkan rendemen sekitar 6-7,5%.

  • Keelastisan atau kelentingan

Merupakan kemampuan tembakau yang dalam keadaan cukup lembab dapat direntangkan sampai batas tertentu tanpa menjadi robek. Faktor yang berpengaruh terhadap keelastisan adalah varietas, keadaan lingkungan, teknik budidaya, letak daun pada batang, kemasakan, dan kadar air krosok.

  • Bodi

Merupakan kelunakan/kelembutan daun tembakau yang disebabkan oleh bagian semi cair, tanpa dipengaruhi ketebalan dan tekstur. Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi tanah, iklim, teknik budidaya, serta letak daun pada batang.

 

 

  • Mutu Bakar

Beberapa sifat yang mencangkup dalam hal ini antara lain daya membara, kecepatan membara, sempurnanya pembakaran, keteguhan abu.

  • Kuat fisiologis

Merupakan kriteria penilaian tembakau sehubungan dengan kandungan penyusun yang akan mempengaruhi fisiologis pemakai.

  • Warna

Merupakan sifat dasar yang dimiliki setiap jenis tembakau, baik dalam bentuk basah maupun krosok yang bersifat genetis.

  • Aroma

Dengan adanya fermentasi krosok akan mempunyai aroma yang baik. Aroma paling penting adalah yang timbul jika tembakau dibakar. Aroma ini adalah hasil destilasi kering dari bahan-bahan gum.

(Anonim, 2011).

 

2.5 Komposisi Tembakau

Tembakau terdiri atas ribuan komponen, komponen utamanya adalah nikotin, tar dan karbonmonoksida.

  • Nikotin

Nikotin dengan cepat masuk ke otak begitu anda merokok. Nikotin adalah racun. 30 mg nikotin menyebabkan kematian.Meski orang merokok dengan rata-rata 15-20 mg nikotin, hanya sebagian yang diabsorbsi oleh perokok. Setiap rokok rata-rata mengandung 0.1-1.2 mg nikotin. Masuknya nikotin , tar dan komponen lain, dipengaruhi juga oleh teknik merokok, seperti inhalasi dalam dan panjang, penggunaan filter.

  • Tar

Tar bukanlah zat tunggal, terdiri atas ratusan bahan kimia gelap dan lengket, ia tergolong racun pembuat kanker. Banyak pabrik rokok tidak mencantumkan kadar tar dan nikotinnya dalam rokok yang dihasilkannya. Rokok Sampoerna Mild mengandung tar 1.5 mg per batang rokok.

  • Karbonmonoksik (CO)

Karbonmonoksik (CO) merupakan jenis racun yang terhembus dari rokok dibakar. CO didalam asap rokok masuk kedalam pembuluh darah, kemudian CO mengusir oksigen dari ikatannya dengan hemoglobin dalam butir darah merah. Ikatan CO dengan hemoglobin (COHb) akan membuat hemoglobin tak mampu melepaskannya, sehingga fungsi hemoglobin sebagai alat angkut oksigen bergantian dengan CO2 (karbondioksida) tidak lagi bekerja. Dengan demikian kerja jantung menjadi tambah berat (Frankenburg, 1946).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1    Alat dan Bahan

3.1.1        Alat

–     Penggaris

–     Neraca analitik

–     Kompor

–     Erlenmeyer

–     Spatula

–     Hot plat

–     Botol

–     Oven

–     Eksikator

–     Stopwatch

–     Kawat

–      

3.1.2        Bahan

–     Daun tembakau

–     indikator PP

–     1 gr krosok

–     Aquades

–     H2SO4

–     Rokok

–     NaOH

 

3.2    Skema Kerja

  1. a.      Berat Nisbi

 

       
     
 
   

 

 

 

 

           

 

 

 
   

 

                                                                                          

 

  1. b.      Mutu Bakar

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. c.       Alkalinitas

 

           
     
 
     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. d.      Komposisi Berat

 

       
   
 
     

 

 

 

 

 

                                                                             

  1. e.       Kadar Nikotin

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. f.       Sifat Higroskopis

 

       
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                           

 

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN HASIL PERHITUNGAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

a. Berat Nisbi

Kel

Jenis daun tembkau

Panjang

(P) (cm)

Lebar

(L) (cm)

Mutu

Berat daun (A) gram

Berat tulang daun (B) gram

1

Koseran

44

22

1

3,53

1,26

2

3

Tengah

47

23

1

2,60

0,97

4

Pucuk

40

22,5

2

3,13

1,21

5

Kaki

51

22,5

1

3,14

1,08

 

b. Mutu Bakar

  • Tembakau Krosok

Kel

Jenis daun tembakau

Waktu pijar (detik)

Hasil

1

Kaki

28

1 curah menyebar

2

Tengah

22

1 curah menyerah

3

Pucuk

6

1 curah menyerah

 

  • Tembakau Rajangan

Kel

Jenis daun tembakau

Waktu pijar (detik)

Warna

Aroma

4

Galek

10

Coklat tua

Menyengat

5

Besuki

52

Coklat muda

Tdk menyengat

 

c. Alkalintas

Kel

Alkalinitas daun tembakau

Ml H2SO4  (A)

N H2SO4  (B)

Ml sampel (C)

1 & 2

2,3 ml

0,1 N

20 ml

3 & 4

1,4 ml

0,1 N

20 ml

5

7,5 ml

0,1 N

20 ml

 

d. Sifat Higroskopis

Kel

Perlakuan

A gram

B gram

C gram

1

Simpan terbuka

21,34

22,16

22,0428

22,0429

22,0430

2

3

Simpan kertas

22,23

23,27

23,0606

23,0607

23,0609

4

5

Simpan kardus

23,04

24,05

23,8753

23,8754

23,8758

 

 

e. Komposisi Berat dan Kadar Nikotin

Kel

Jenis

Rasa

Komposisi berat

Berat Awal

Jumlah titrasi

Dekblad

omblad

Filler

1

Filo Black

+++

0,0816

0,7816

0,9802

3,6 ml

2

Djarum Black

+++

0,0997

0,8846

1,1116

5,6 ml

3

Argopuro

+

0,21

0,40

4,01

3,9092

3,1 ml

4

Djarum 76

++++

0,0977

1,585

1,9128

5,1 ml

5

Cardinal

++

0,19

0,38

3,93

3,3115

3,1 ml

 

4.2 Hasil Perhitungan

a. Berat Nisbi

Kelompok

Jenis tembakau

Berat Nisbi (%)

1 & 2

Koseran

36,7

3

Tengah

37,3

4

Pucuk

38,7

5

Kaki

34,4

 

b. Mutu Bakar

 

 
   

 

c. Alkalinitas

Kelompok

Alkalinitas

1 dan 2

575

3 dan 4

350

5

1875

 

d. Sifat Higroskopis

 

Kelompok

KA (%)

1 & 2

14,28

3 & 4

20,13

5

17,28

 

 

 

 

 

 

 

e. Komposisi Berat dan Kadar Nikotin

 

Kelompok

Komposisi bahan

Kadar nikotin

Dekblad

Omblad

Filler

1

8,32%

79,74%

5,84

2

8,97%

79,58%

9,08

3

5,37%

10,23%

102,23%

5,03

4

5,10%

82,86%

8,27

5

5,74%

11,48%

118,68%

5,03

                                                                                    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5. PEMBAHASAN

 

5.1 Berat Nisbi

Diharapkan daun tembakau memiliki tulang daun relatif kecil /halus, sehingga berat nisbinya relatif kecil. Semakin kecil berat nisbi daun semakin baik, terutama untuk pembalut dan pembungkus.

Prosedur kerjanya yaitu menghitung panjang, lebar, dan mutu daun yang  kemudian dimbang berat daun sebagai A gram dan dimbang tulang daun sebagai B gram setalah itu dihitung berat nisbinya. Hasil dari pengukuran berat nisbi merupakan untuk jenis daun koseran dihasilkan 36,7 %, untuk jenis daun tengah dihasilkan 37,3 %, untuk jenis daun pucuk dihasilkan 38,7 %, untuk jenis daun kaki dihasilkan 34,4 %. Dari hasil tersubut didapatkan bahwa jenis daun kaki memiliki mutu yang bagus yaitu 34,4%, karena berat nisbinya kecil, semakin kecil berat nisbi maka mutu daun semakin baik.

 

5.2 Mutu Bakar

Mutu bakar adalah salah satu pengukur penilaian mutu tembakau yang digunakan sebagai rokok maupun cerutu. Mutu bakar meliputi sifat-sifat daya bakar, kecepatan membara, sempurna tidaknya pembakaran. Pada umumnya dikehendaki kecepatan membara relatif lambat, dengan kerataan membara ke segala jurusan, yang cukup.

Prosedur kerjanya adalah kawat dipanaskan hingga merah kemudian ditusukkan pada lamina daun dan hitung dengan stopwatch. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa untuk jenis tembakau kaki waktu pijarnya 28 detik, dengan hasilnya 1 arah menyebar, untuk jenis tembakau tengah waktu pijarnya 22 detik hasilnya 1 arah menyebar, untuk jenis tembakau pucuk waktu pijarnya 6 detik dengan hasilnya 1 arah menyebar. Sedangkan pada jenis tembakau Galek, waktu pijar 10 detik dengan warna coklat tua dan aromanya menyengat, untuk jenis tembakau Besuki dengan waktu pijar 52 detik dengan warna coklat muda dan aromanya tidak menyengat. Hal ini dapat diketahui jenis tembakau Besuki lebih bagus mutunya karena waktu pijarnya lama.

 

5.3 Alkalinitas

Prosedur kerjanya yaitu menyipkan 1 gram krosok halus ditambah 20 ml aquades, dimasukkan dalam erlenmeyer  kemudian diambil filtratnya sebanyak 20 ml, lalu ditetesi indikator PP sebanyak 10 tetes untuk mengetahui kandungan OH dan CO2. Jika larutan berwarna merah maka ditambah 2-3 tetes metil oranye dan dititrasi dengan H2SO4, hingga warnanya merah muda. Apabila larutannya yang ditetesi indikator PP berwarna merah lembayung maka langsung dititsi dengan H2SO4 sampai warna merahnya hilang, kemudian catat volume H2SO4nya. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut bahwa alkalinitas pada kelompok 1 dan 2 adalah 575, pada kelompok 3 dan 4 adalah 350, dan pada kelompok 5 adalah 1875. Dari hasil tersebut diketahui bahwa dari nilai alkalinitas pada kelompok 5 yang terbesar yaitu 1875, bahwa kemampuan tembakau mengubah pH menjadi alkalis atau basa sangat tinggi saat proses fermentasi. 

 

5.4 Komposisi Berat

Dari setiap sampel memiliki komponen penyusun yang berbeda-beda, tergantung pada tipe dari rokok. Ada yang terdiri atas dekblad, omblad, dan fillere. Ada juga yang tidak memiliki omblad atau dekblad. Deblad adalah pembalut, omblad adalah pembungkus, dan filler adalah isi yaitu tembakau.

            Prosedur kerjanya  adalah rokok atau cerutu ditimbang sebagai A gr, rokok atau cerutu tersebut diambil dekblad, omblad, & filler sebagai B gr, lalu dihitung komposisi beratnya. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui untuk kelompok 1 (Filo black) dekbladnya 8, 32%, dan untuk fillernya 79,74%. Untuk kelompok 2 (Djarum black) dekbladnya 8,79%, dan fillernya 79,58%. Untuk kelompok 3 (Cerutu argopuro) dekbladnya 5,37%, ombladnya 10,23%, dan fillernya 102,58%. Untuk kelompok 4 (Djarum 76) dekbladnya 5,10%, dan fillernya 82,86%. Untuk kelompok 5 (Cerutu cardinal) dekbladnya 5,74%, ombladnya 11,48%, dan fillernya 118,68%. Dari hasil tersebut diketahui bahwa filler terbesar ada pada kelompok 5 yaitu cerutu cardinal, dan untuk rokok tidak ada ombladnya (pembungkus), tetapi pada cerutu terdapat ombladnya.

 

5.5 Kadar Nikotin

Nikotin adalah zat yang terkandung dalam daun tembakau. Setiap kali seseorang menghirup bahan-bahan yang mengandung nikotin maka zat ini akan masuk dalam tubuh dan bersemayan pada otak. Setiap 1 batang rokok mengandung sedikitnya 10 miligram nikotin. Nikotin ini yang membuat orang kecanduan untuk merokok.

Prosedur kerjanya adalah 1 gram tembakau halus ditambah 1 ml NaOH 20% agar menstabilkan pH. Lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan diaduk rata lalu ditambah benzene sebanyak 20 ml untuk melarutkan nikotin. Gojok hingga rata sambil menekan tutupnya. Setelah itu diamkan selama 2 jam hingga bagian atasnya jernih. Saring dan ambil 10 ml larutan, masukkan ke dalam erlenmeyer, uapkan diatas penangas + 2 ml selama 2 menit untuk menghilangkan sisa benzene. Setelah itu ditambah 20 ml aquadest dan metil merah 5 tetes sebagai indikator warnanya, titrasi dengan 0.01 N HCl hingga merah. Dari hasil perhitungan didapatkan untuk kadar nikotin pada kelompok 1 (filo black) 5,84, untuk kelompok 2 (Djarum black) 9,08, untuk kelompok 3 (cerutu argopuro) 5,03, untuk kelompok 4 (Djarum 76) 8,27, untuk kelompok 5 (cerutu cardinal) 5,03. Kadar nikotin terbesar terdapat pada kelompok 2 (Djarum black) yaitu 9,08, hal ini diakrenakan mutunya lebih bagus, karena semakin besar kadar nikotin yang terkandung maka semakin bagus mutunya.

 

5.6 Sifat Higroskopis

Sifat higroskopis tergantung dari jenis dan tingkat mutu tembakau. Tembakau yang terlalu higroskopis akan peka terhadap minyak. Sifat higroskopis mempunyai hubungan dengan kadar nitrat di dalam tangkai daun.

            Prosedur kerjanya adalah daun tembakau diberi beberapa perlakuan yaitu disimpan dalam kardus, dibiarkan terbuka dan dibungkus koran kemudian disimpan selama 48 jam. Botol ditimbang sebagai a gram, tembakau yang diberi perlakuan ditumbuk halus dan di timbang sebanyak 1 gram dan dimasukkan dalam botol. Kemudian di oven selama 24 jam pada suhu 100oC, setelah itu di eksikator selama 15 menit untuk menjaga kelembaban, kemudian botol ditimbang sebanyak 3 kali sebagai C gram. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hasil yaitu untuk tembakau yang disimpan terbuka kadar airnya 14,28%, untuk yang disimpan dengan kertas koran kadar airnya 20,13%, dan untuk yang disimpan dalam kardus kadar airnya 17,28%. Diketahui bahwa kadar airnya terbesar ada pada daun tembakau yang dibungkus kertas koran, karena kemampuan higroskopisnya besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 6. PENUTUP

 

6.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:

  • Ø Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam tanaman perkebunan. Pemanfaatan tanaman tembakau terutama pada daunnya yaitu untuk pembuatan rokok.
    • Berdasarkan penggunaannya, tanaman tembakau spesies Nicotiana tabacum dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: tembakau cerutu, tembakau sigaret, dan tembakau pipa.
    • Hal-hal yang mempengaruhi mutu tembakau antara lain : ukuran, bentuk dan letak daun, tulang dan lamina, tenunan daun, tebal daun, kepadatan jaringan, berat per satuan luas, keelastisan, bodi, getah atau gum, mutu bakar, kuat fisiologis, warna, aroma, rasa dan sifat higroskopis.
    • Komposisi tembakau antara lain yaitu nikotin, tar dan kabonmonoksik.
    • Berdasarkan hasil perhitungan nisbi jenis daun kaki memiliki mutu yang bagus yaitu 34,4%, karena berat nisbinya kecil, semakin kecil berat nisbi maka mutu daun semakin baik.
    • Berdasarkan hasil pengamatan  didapatkan bahwa untuk jenis tembakau kaki waktu pijarnya 28 detik, untuk jenis tembakau tengah waktu pijarnya 22 detik, untuk jenis tembakau pucuk waktu pijarnya 6 detik dengan hasilnya 1 arah menyebar. Sedangkan untuk jenis tembakau Galek dengan waktu pijar 10 detik dengan warna coklat tua dan aromanya menyengat, untuk jenis tembakau Besuki dengan waktu pijar 52 detik dengan warna coklat muda dan aromanya tidak menyengat. Hal itu berarti jenis tembakau Besuki lebih bagus          mutunya karena waktu pijarnya lebih lama.
    • Dari hasil untuk pengamatan alkalinitas diketahui bahwa nilai alkalinitas pada kelompok 5 yang terbesar yaitu 1875, itu berarti bahwa kemampuan tembakau mengubah pH menjadi alkalis atau basa sangat tinggi saat fermentasi. 
    • Dari hasil untuk komposisi berat diketahui bahwa filler terbesar ada pada kelompok 5 yaitu cerutu cardinal, dan untuk rokok tidak ada ombladnya (pembungkus), tetapi pada cerutu terdapat ombladnya.
    • Dari hasil untuk kadar nikotin terbesar ada pada kelompok 2 (Djarum black) yaitu 9,08, hal itu berarti mutunya lebih bagus, karena semakin besar kadar nikotin yang terkandung maka semakin bagus mutunya.
    • Dari hasil untuk kadar airnya/sifat higroskopis terbesar ada pada daun tembakau yang dibungkus kertas koran, karena kemampuan higroskopisnya besar.

 

 

6.2 Saran

            Terima kasih ea mbk2 n mas yang telah menjadi asisten yg baik bagi kami…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdullah, Ahmad dan Soedarmanto. 1982. Budidaya Tembakau. Jakarta : CV Yasaguna

 

Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Pengolahan Hasil Pertanian Tembakau, Gula dan Lateks. Jember: FTP UNEJ

 

Cahyono, Bambang. 1998. TEMBAKAU, Budi daya dan Analisis Tani. Yogyakarta : Kanisius

 

Matnawi, Hudi. 1997. Budidaya Tembakau Bawah Naungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Frakenburg, W. G. 1946. Chemical Changes in The Harvested Tobacco Leaf I, Adv. Enzymol., 6.

 

Setiadji. 2011. Teknologi Pengolahan Tembakau. Jember : FTP Universitas Jember.

 

http://discoveringannuals.com/manual.html  (Diakses tanggal 20 Des 2011)