BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Setiap bagian pohon karet jika dilukai akan mengeluarkan getah susu yang disebut lateks. Banyak tanaman jika dilukai akan mengeluarkan cairan putih yang menyerupai susu, tetapi hanya beberapa pohon saja yang menghasilkan karet. Diantara tanaman tropis hanya havea bracileansis yang telah dikembangkan dan mencapai tingkat perekonomian yang penting.

Di Indonesia, sebagian besar perkebunan yang ada merupakan perkebunan rakyat. Namun, petani rakyat ini sebagian besar tidak menentukan besarnya pengeluaran dalam pengusahaan karet, padahal karet alam  memerlukan penanganan sebaik-baiknya agar menguntungkan, apalagi jika harus dibandingkan dengan karet sintetis dimana harganya bisa dipertahankan supaya tetap stabil.

Dalam perkembangannya getah karet atau lateks tidak hanya digunakan dalam industri ban saja. Semakin lama banyak barang yang dibuat dengan berbahan dasar lateks. Mulai dari sarung tangan operasi hingga barang barang kebutuhan sehari – hari.

Lateks dapat diolah dalam bentuk karet sheet, crepe, lateks pekat dan karet remah (Crumb rubber). Dalam praktikum ini akan dipelajari tahap-tahap pengolahan lateks menjadi karet sheet dan juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi mutu karet yang dihasilkan.

 

1.2  Tujuan

1.2.1   Umum

Dapat memahami proses pengolahan lateks, faktor-faktor proses, pengendalian proses dan mutu yang dihasilkan.

1.2.2   Khusus

–          Dapat menjelaskan pengaruh kualitas bahan dasar terhadap kualitas karet yang dihasilkan.

–          Dapat menjelaskan beberapa macam proses pengolahan macam proses pengolahan karet alam yaitu karet sheet, crepe, lateks dan crumb rubber.

–          Dapat menjelaskan cara-cara pengawasan mutu pada karet sheet, crepe, lateks pekat dan crumb rubber.

 

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

–        Beaker glass

–        Spatula

–        Oven

–        Neraca analitik

–        Plastik

–        Alat penggiling

–        Alat saring

3.1.2 Bahan

–        Asam format

–        Asam asetat

–        Lateks

–        Larutan CMC

–        Air

 

3.2 Skema Kerja

3.2.1 Perhitungan KKK Lateks Segar

 

100 ml lateks segar

+ asam format 1%10ml

+ asam asetat 1%10ml

Dipanaskan dan diaduk perlahan hinga menggumpal

Digiling

Dikeringkan

Hitung faktor pengeringan

Tentukan dan amati KKK, aroma, tekstur dan warnanya

Ditimbang berat basah (a gram)

Dioven (500C)

Ditimbang bera kering (b gram)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2.2 Pengenceran Lateks

 

200 ml Lateks segar

Disaring

Tentukan KK dan KE nya

Tambahkan air sesuai perhitungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

300 ml Lateks

3.2.3 Penagaruh Penambahan Bahan Dadih

 

Disaring

Ditambahkan larutan CMC 1%

Sebanyak 10ml pada setiap perlakuan

Diaduk

Didiamkan selama 4,7,8 hari

Amati warna, tekstur dan aroma dan tentukan KKKnya

4 hari

7 hari

8 hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Klasifikasi Tanaman Karet

Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer.

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi botani tanaman karet sebgai berikut:

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Keluarga          : Euphorbiaceae

Genus              : Hevea

Spesies            : Hevea brasiliensis

(Habibie, 2009).

 

2.2 Pengertian, Sifat dan Kandungan Kimia Lateks

Lateks adalah suatu istilah yang dipakai untuk menyebut getah yang dikeluarkan oleh pohon karet. Lateks terdapat pada bagian kulit, daun dan integument biji karet. Lateks merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang banyak mengandung bermacam-macam zat. Warna lateks adalah putih susu sampai kuning. (Djumarti 1998).

Karet mempunyai sifat kenyal (elastis), sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Lateks sendiri membeku pada suhu 32oF karena terjadi koagulasi.(Goutara, dkk: 1985)

Lateks mengandung 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-77 % serum (air dan zat yang larut). Karet mentah mengandung 90-95 % karet murni, 2-3 % protein, 1-2 % asam lemak, 0,2 % gula, 0,5 % garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara merata)dalam serum lateks dengan ukuran 0,004-3 mikron, atau 0,2 milyar partikel karet per millimeter lateks. (Goutara, dkk: 1985).

 

2.3 Tahapan Pengolahan Karet Secara Umum

  1. Penerimaan Lateks Kebun

Lateks kebun terlebih dahulu ditimbang dan ditentukan kadar karet karet keringnya (KKK), yaitu dengan mengambil lateks sebanyak 50-100 ml ditambah 10-20 ml larutan asam pimat 1 purin hasil pembekuan digiling dengan gilingan laboratorium (tangan) sampai diperoleh lembaran tipis.

  1. Pengenceran Lateks

Sebelum diencerkan, lateks disaring dulu. Penentuan jumlah air yang diperlukan untuk mengencerkan dengan KKK kebun menjadi lateks encer KKK tertentu 15%.

 

 

  1. Pembekuan

Lateks yang sudah diencerkan lalu ditambah larutan format 1% sebanyak 55,5 ml tiap liter lateks atau asam asetat 2% dengan KKK 15%.

  1. Penggilingan

Setelah diperoleh lembaran koagulan yang tebal dan basah kemudian dilakukan penggilingan dengan tujuan mengeluarkan sebagian air, memperluas permukaan sheet dengan menipiskan dan memberi lambang (print) serta menyeragamkan mutu penggilingan karet dilakukan dengan baterai sheet yang terdiri dari 4-6 gilingan beroda 2.

  1. Pengasapan dan Pengeringan

Bertujuan untuk mengawetkan sheet karena mengandung phenol yang dapat mencegah tumbuhnya mikroorganisme dan sheet.

  1. Sortasi dan Pembungkusan

Setelah melalui pengasapan dan pengeringan sheet dipilih menjadi beberapa macam mutu berdasarkan persyaratan tertentu.

(Anonim, 2011).

 

2.4 Jelaskan Perbedaan Pengolahan Karet Sheet dan Crape

Dalam pengolahan karet jenis sheet dan crepe biasanya digunakan mesin penggilingan.Di kalangan pengolahan lateks, mesin ini sering disebut baterai sheet. Baterai sheet ada yang terdiri dan 4, 5, atau 6 gilingan beroda dua.  Baterai sheet yang merniliki 4 gilingan beroda   dua contohnya adalah merek Cadet. Sedangkan yang memiliki 5 dan 6 gilingan beroda dua masing-masing contohnya adalah merek Aristo dan Six in One. Kapasitas setiap jenis baterai sheet berbeda dan tergantung pada ketebalan sheet yang akan dibuat Mesin penggilingan untuk crepe dikenal dengan nama baterai crepe.Jumlah gilingan beroda dua yang ada biasanya 3, 4, atau 5 gilingan. Baterai crepe dengan 3 gilingan beroda dua biasanya kurang memberikan hasil gilingan yang memuaskan, yang paling baik adalah baterai crepe dengan 5 gilingan.

            Selama proses penggilingan, mesin-mesin berjalan terus menerus.Pada gilingan terakhir selalu terdapat patron yang disebut printer yang berbentuk spiral.Patron berfungsi  memperbesar permukaan sheet serta bisa mempercepat jalannya pengeringan (Habibie,2009).

 

 

 

2.5 Manfaat Lateks

Karet alam banyak digunakan dalam berbagai industri. Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-sehari maupun dalam usaha industri mesin-mesin penggerak. Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan, sepatu karet, sabun penggerakmesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam.

Bahan baku karet banyak digunakan untuk membuat perlengkapan seperti sekat atau tahanan alat-alat penghubung dan penahan getaran. Karet juga bisa dipakai untuk tahanan dudukan mesin serta dipasang pada pintu, kaca pintu, kaca mobil, dan pada alat-alat lainnya (Nopianto,2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN HASIL PERHITUNGAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

a. Perhitungan KKK Lateks Segar

Perlakuan

a gram

b gram

Warna

Tekstur

Aroma

+asam format

22,44

15,96

+ 1

+ 3

+ 2

+asam asetat

20,82

14,71

+ 1

+ 2

+ 1

 

b. Pengenceran Lateks

ml Lateks

KKK

KE

Ʃ air yang di +

200

17

15

26 ml

 

c. Pengaruh Penambah Bahan Dadih

Perlakuan

Warna

Aroma

Tekstur

Berat

a gram

b gram

4 hari

+

++

+

37,44

28,28

7 hari

++

+++

++

33,58

28,69

8 hari

++

++++

+++

38,14

30,53

 

Keterangan:

Warna              : semakin + semakin pekat/ gelap

Aroma             : semakin + semakin menyengat

Tekstur            : semakin + semakin kenyal

 

4.2  Hasil Perhitungan

  1. Perhitungan KKK Lateks Segar

Perlakuan

A gram

B gram

Nilai KKK

+ asam format

22,44

15,96

15,74

+ asam asetat

20,82

14,71

14,78

 

  1. Pengenceran Lateks

Perlakuan

AT

Pengenceran lateks

26 ml

 

  1. Pengaruh Penambahan Bahan Dadih

Hari ke-

FP (%)

KKK (%)

4

24,47

28,28

7

14,56

28,69

8

19,95

30,53

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5. PEMBAHASAN

 

5.1 Fungsi dan Penentuan Nilai KKK dan AT

Tujuan dari pengenceran lateks dalam praktikum kali ini adalah untuk  menjaga agar kadar karet kering (KKK) lateks sewaktu diolah dapat dipertahankan selalu tetap. Serta untuk mengetahui berapa kadar air yang dipelukan untuk mengencerkan lateks secara tepat.

Penentuan AT ini berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah air yang ditambahkan sehingga KKK-nya seragam dan memiliki mutu yang tetap atau bisa dikatakan untuk menentukan jumlah air pada waktu pengenceran lateks.

5.2 Prinsip Analisa

            Prinsip analisa yang pertama adalah perhitungan KKK lateks segar dengan menambahkan asam format dan asam aseta untuk mempercepat proses penggumpalan.

            Prinsip analisa yang kedua adalah pengenceran lateks untuk mendapatkan KKK lateks tertentu dengan menggunakan aquades untuk menentukan jumlah air yang diperlukan untuk pengenceran.

            Sedangkan prinsip analisa yang ketiga adalah pengaruh penambahan bahan dadih dimaksudkan untuk memisahkan antara fraksi serum dengan dadihnya. Dalam pemisahan dua fraksi ini menggunakan CMC 1% yang akan mempercepat naik butir karet sehingga dalam beberapa waktu butir karet akan terpisah dan terkumpul dibagian atas cairan dan serumnya berada dibawah dengan lama pemisahan 3-4 hari.

 

5.3 Mekanisme Terjadinya Koagulasi Lateks dengan Penambahan Asam Asetat dan Asam Format

Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan karena adanya gaya grafitasi. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering. Jumlah tersebut dapat diperbesar jika di dalam lateks telah ditambahkan zat antikoagulan sebelumnya. Penggunaan asam format didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi kebun dan petani karet dibandingkan bahan koagulan asam lainnya.

Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4,5-4,7. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH- pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks. Penambahan larutan asam diikuti dengan pengadukan agar tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu mempercepat proses pembekuan. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara yang dapat mempegaruhi mutu sit yang dihasilkan. Kecepatan penggumpalan dapat diatur dengan mengubah perbandingan lateks, air dan asam sehingga diperoleh hasil bekuan atau disebut juga koagulum yang bersih dan kuat. Lateks akan membeku setelah 40 menit. Proses selanjutnya ialah pemasangan plat penyekat yang berfungsi untuk membentuk koagulum dalam lembaran yang seragam (Suseno, 1989).

 

5.4 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan

            Dalam praktikum pengolahan lateks ini dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama yaitu perhitungan KKK lateks segar, pertama-tama 100ml lateks segar ditambahkan asam format dan asam asetat masing-masing 1% 10ml, fungsi ditambahkan asam format dan asam asetat adalah untuk mempercepat proses penggumpalan. Kemudian dipanaskan dan diaduk perlahan hingga menggumpal dan digiling utuk memperluas permukaan dan mempercepat proses pengeringan lateks. Setelah itu dikeringanginkan untuk mengurangi kadar airnya. Setelah dikeringanginkan, ditimbang berat basah (a gram) dan dioven selama 1 hari dengan suhu 500C berfungsi untuk mengurangi kadar air bahan dan ditimbang sebagai berat kering (b gram). Kemudian ditentukan FP dan KKK nya.

            Tahap kedua yaitu pengenceran lateks, 200 ml lateks segar disaring untuk memisahkan kotoran dengan lateks yang akan digunakan. Kemudian ditambah air sesuai dengan rumus AT. Penambahan air ini berujuan untuk mengencerkan lateks.

            Tahap ketiga yaitu pengaruh penambahan bahan dadih, 300 ml lateks disaring yang berfungsi untuk memisahkan kotoran yang ada dalam lateks. Kemudian dibagi menjadi tiga yaitu 4 hari, 7 hari, dan 8 hari sebagai pembanding yang nantinya dapat diketahui dari ketiga perlakuan tersebut mana yang memiliki warna, tekstur, dan aroma yang paling baik. Kemudian ditambahkan CMC 1% sebanyak 10 ml pada masing-masing perlakuan. Penambahan CMC ini berguna untuk memisahkan lateks menjadi dua fraksi yaitu serum dan dadih. Lalu dilakukan pengadukan agar bercampur merata antara lateks dan CMC. Setelah itu didiamkan selama 4, 5, 6 hari dan diamati warna, tekstur, aroma serta ditentukan KKK-nya.

 

5.5 Analisis Data

            Dari hasil perhitungan KKK dan AT. Sebelum melakukan perhitungan KKK, terlebih dahulu dihitung faktor pengencerannya (FP). Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, didapat hasil nilai FP pada penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 28,9% dan 29,35%. Dan untuk perhitungan KKK dari penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 15,95% dan 14,71%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam format sebagai bahan penggumpal lebih baik daripada penambahan asam asetat karena KKKnya lebih besar. Karet yang belum dikeringkan memiliki aroma yang sangat menyengat, tetapi setelah dikeringkan aroma ini akan memudar. Hal ini terjadi karena selama proses pengeringan terjadi penguapan senyawa volatil yang memberikan aroma yang menyengat.

            Pada perhitungan pengenceran lateks dengan KKK 17 dan KE 15, didapat nilai AT sebesar 26 ml. Pengenceran lateks bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak air yang dibutuhkan berdasarkan jumlah lateks yang akan diencerkan. Pengenceran ini penting karena untuk menjaga agar kadar karet kering selalu tetap meskipun sudah diolah.

            Pada hasil perhitungan pengaruh penambahan bahan dadih, untuk perlakuan 4 hari dihasilkan warna yang cerah, aroma yang kurang menyengat, tekstur kurang kenyal, FP 24,47%, dan KKK sebesar 28,28%. Untuk perlakuan 7 hari memiliki warna agak gelap, aroma menyengat, tekstur kenyal, FP 14,56%, dan KKK sebesar 28,69%. Untuk perlakuan 8 hari didapatkan warna agak gelap, aroma sangat menyengat, tekstur sangat kenyal, FP 19,95%, dan KKK sebesar 30,53%. Dari sini dapat diketahui bahwa semakin lama penyimpanan akan mempengaruhi warna, tekstur, dan aroma. Semakin lama penyimpanan warnanya semakin gelap, aroma semakin menyengat, dan tekstur semakin kenyal. KKK tertinggi yaitu pada penyimpanan 8 hari dengan KKK sebesar 30,53%. Ini berarti bahwa semakin lama penyimpanan nilai KKK akan semakin besar dan mutu karet akan semakin baik.

 

 

 

 

BAB 5. PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

            Dari hasil pengamatan dan perhitungan dapat disumpulkan bahwa:

  • Lateks adalah suatu istilah yang dipakai untuk menyebut getah yang dikeluarkan oleh pohon karet.
  • Karet mempunyai sifat kenyal (elastis), sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Lateks sendiri membeku pada suhu 32oF karena terjadi koagulasi.
  • Lateks mengandung 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-77 % serum (air dan zat yang larut). Karet mentah mengandung 90-95 % karet murni, 2-3 % protein, 1-2 % asam lemak, 0,2 % gula, 0,5 % garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara merata)dalam serum lateks dengan ukuran 0,004-3 mikron, atau 0,2 milyar partikel karet per millimeter lateks.
  • Penentuan KKK ini berfungsi untuk mengetahui kadar kering lateks yang digunakan untuk menentukan penerimaan lateks kebun. Sedangkan penentuan AT  berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah air yang ditambahkan sehingga KKK-nya seragam.
  • Pada perhitungan KKK dari penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 15,95% dan 14,71%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam format sebagai bahan penggumpal lebih baik daripada penambahan asam asetat karena KKKnya lebih besar.
  • Pengenceran lateks bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak air yang dibutuhkan berdasarkan jumlah lateks yang akan diencerkan. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai AT 26 ml.
    • KKK tertinggi yaitu pada penyimpanan 8 hari dengan KKK sebesar 30,53%. Ini berarti bahwa semakin lama penyimpanan nilai KKK akan semakin besar dan mutu karet akan semakin baik.

 

6.2 Saran

            Terima kasih kakak2 asisten TOGEL yang telah menjadi asisten yang sabar dan baik dibandingkan asisten yang lain.

Hehehe …..

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Pengolahan Hasil Pertanian Tembakau, Gula dan Lateks. Jember: THP FTP UNEJ

 

Djumarti, Ir. 2011. Handout Kuliah Teknologi Pengolahan Lateks. Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Jember

 

Goutara, B. Djatmiko, W. Tjiptadi. 1985. Dasar Pengolahan Karet. Bogor: IPB.

 

Habibie. 2009. Mengenal Tanaman Karet. http://habibiezone.wordpress.com/2009/12/07/mengenal-tanaman-karet/

(diakses tanggal 15 Desember 2011).

 

Nopianto, Eko. 2009. Karet Alam. http://eckonopianto.blogspot.com/karet-alam.html

            (Diakses tanggal 18 Desember 2011).

 

Suseno,RS. Suwarti. 1989. Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sheet yang Diasap. Bogor: Balai Penelitian Perkebunan Bogor.