Latest Entries »

BUAH NAGA

 

BUDIDAYA TANAMAN BUAH NAGA

 

Buah naga atau dragon fruit merupakan buah dari beberapa kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari daerah Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di daerah asalnya, buah ini bernama pitahaya atau pitaya roja dan sering dihidangkan sebagai makanan pembuka bagi masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan, buah naga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Sekitar tahun 1870, orang Perancis membawa tanaman ini dari  Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Menurut orang Vietnam dan Cina, tanaman buah naga ini dianggap sebagai tanaman membawa berkah. Maka dari itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga yang berwarna hujau di atas altar. Warna dari buah ini sangat mencolok di antara patung naga. Dari kebiasaan orang Cina tersebut, orang Vietnam menyebutnya sebagai thang loy (buah naga). Istilah tersebut lalu diartikan di Eropa dan negara-negara lain sebagai dragon fruit.

Di Indonesia berpotensi untuk mengembangkan tanaman buah naga karena memiliki ilklim tropis, lahan yang luas dan belum termanfaatkan dengan baik, dan sumber daya manusia yang melimpah. Buah naga mempunyai peluang ekspor yang tinggi, hal ini karena adanya promosi yang menyebutkan bahwa buah naga sebagai buah meja yang artinya menarik untuk disajiakn di atas meja makan. Selain itu, bermanfaat untuk dijadikan bahan dasar di bidang indutri untuk dijadikan makanan, minuman, kosmetik, pewarna, dan lain-lain.

Saat ini buah naga telah menjadi salah satu fenomena dalam usaha agraria dii Indonesia. Meskipun belum dikenal banyak oleh masyarakat dan harganya yang relatif mahal,  hal ini dikarenakan buah ini termasuk buah musiman sehingga masih terbilang langkah bagi sebagian masyarakat. Namun saat ini, keberadaan buah naga menarik banyak perhatian orang sekaligus di dunia pertanian Indonesia.

Pembudidayaan buah naga dilakukan di kebun. Untuk menghasilkan produksi yang baik, maka dibutuhkan persiapan yang matang, perawatan dan penanggulan gangguan penyakit tang tepat. Pengolahan tanah sangat penting agar tanaman bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur karena perakarannya merayap dipermukaan tanah. Sebelumnya, tanah dibersihakan dari rumput agar terhindar dari penyakit. Setelah itu tanah digemburkan dengan mencangkul dan membuat lubang-lubang tanam. Penanaman bibit harus diperhatikan kedalamannya, jika terlalu dalam maka akan menghambat pertumbuhannya. Apabila panjang bibit sekitar 50-80 cm maka kedalamannya sekitar 10-15 cm.

Buah naga rentang terkena hama dan penyakit. Untuk meminimalkan terjadinya serangan hama, biasanya buah dibungkus dengan plastik. Penyakit busuk batang akan timbul saat musim hujan, untuk itu harus dijaga kebersihan lahan dan memberi pestisida secara berkala untuk mematikan jamur yang ada. Untuk mengatasi busuk batang pada buah naga, cukup memotong bagian yang busuk. Lalu diolesesi fungisida pada luka potong tersebut. Setelah bersih, tanam kembali batang buah naga. Beberapa minggu kemudian akan tumbuh akar dan tanaman buah naga akan kembali sehat.

Ada beberapa jenis buah naga yang telah dibudidayakan di Indonesia seperti; Hylocereus undatus yang buahnya berwarna merah dengan daging berwarna putih; Hylocereus polyrhizus yang buahnya berwarna merah mudah dengan daging berwarna merah; Selenicereus megalanthus yang kulit buah berwarna kuning dengan daging buah putih dan Hylocereus costaricensis dengan warna buah yang sangat merah. Buah naga mempunyai akar serabut yang tumbuh di sepanjang batang. Terdapat duri, yang duri tersebut akan tumbuh bunga. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga mempunyai bentuk yang lonjong seperti buah alpukat. Sedangkan batang buah naga berbentuk segitiga, durinya pendek seperti kaktus.

Dari setiap jenis buah naga terdapat keunggulan dan manfaat yang berbeda-beda. Untuk jenis buah naga merah dapat menurunkan kadar gula darah, mengandung banyak serat sehingga dapat mengurangi lemak. Buah naga super merah juga penting untuk kesehatan mata, karena mengandung karoten dan dapat mengurangi resiko terkena kanker. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh AL Leong dari Johncola Pitaya Food R&D, bahwa buah naga merah mengandung vitamin dan mineral yang cukup tinggi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Buah naga daging putih memliki rasa manis bercampur masam segar. Rasa manisnya tergolong rendah dibandingkan jenis yang lain. buah ini cocok ditanam pada lahan kering. Kulit buah ini mempunyai sisik atau jumbai kehijauan di sisi luar.

Pada buah naga kuning memilki penampilan yang unik dengan warna kulit yang kuning dengan daging berwarna putih dan tidak mempunyai sisik. Tekstur kulitnya cenderung lebih halus.

Sedangkan jenis buah naga super merah yang memiliki rasa lebih manis tanpa ada rasa langu dibandingkan dengan jenis yang lain. Buah naga super merah mengandung betalanin yang cocok digunakan sebagai pewarna alami makanan.

Kebanyakan masyarakat mengkonsumsi dalam bentuk buah segar karena secara umum dari semua jenis buah naga mengandung vitamin dan mineral yang tinggi. Selain itu sumber antioksidan yang baik bagi tubuh. Sedangkan kulit buah naga hanya dibuang sebagai sampah. Hal itu sangat disayangkan, karena kulit buah naga mempunyai keunggulan yang dapat dimanfaatkan.

Terdapat beberapa keunggulan dari kulit buah naga, yaitu dapat dijadikan teh kulit buah naga ataupun sebagai pewarna alami makanan. Manfaat dari teh kulit buah naga dapat meningkatkan kelenturan pembuluh darah dan menghambat pertumbuhan sel tumor. Sedangkan sebagai pewarna alami makanan, biasanya menggunakan kulit buah naga super merah karena kaya polyphenol dan sumber antioksidan baik. Salah satu contoh produk yang menggunakan pewarna alami dari kulit buah naga seperti pada pembuatan jelly.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Tembakau diketahui oleh Colombus yang berlayar mengelilingi dunia pada tahun 1492. Beliau menemukan benua Amerika dan mendarat di pulau Sansalvador. Belaiu menemukan suku Indian yang menghisap dadaunan dan bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka mengatakan dengan menghisap dadaunan itu mereka dapat merasakan nikmat, ngantuk, mabuk, mengurangi kelelahan (segar) dan juga mengobati penyakit.

Tanaman tembakau berwarna hijau, berbulu halus, batang, dan daun diliputi oleh zat perekat. Pohonnya berbatang tegak dengan ketinggian rata–rata mencapai 250 cm, akan tetapi kadang–kadang dapat mencapai tinggi sampai 4 m apabila syarat–syarat tumbuh baik. Umur tanaman ini rata–rata kurang dari 1 tahun. Daun mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga berbentuk terompet panjang, daunnya berbentuk lonjong pada ujung runcing, dan kedudukan daun pada batang tegak.

Tembakau mempunyai nilai ekonomi tinggi dan berperan dalam pendapatan usaha tani. Di Indonesia, terdapat berbagai jenis tembakau yang diproduksi, misalnya Virginia (atau Flue-cured), Burley, Rajangan, tembakau yang dikeringkan matahari dan udara, serta tembakau untuk cerutu. Namun ada beberapa faktor khas Indonesia yang membuat jenis tembakau di Indonesia sulit dikelompokkan menjadi jenis Virginia, Burley atau Oriental. Masing-masing daerah penghasil tembakau di Indonesia biasanya memiliki jenis tembakau yang unik, disebabkan oleh kondisi maupun budaya setempat. Oleh karena itu, tembakau biasanya dinamakan menurut daerah asalnya, misalnya Temanggung, Garut, Boyolali, dan lain sebagainya. Lebih dari 100 jenis tembakau dihasilkan di Indonesia, dan 70% dari 200 juta kilogram tembakau yang diproduksi di Indonesia merupakan jenis Rajangan yang lazim digunakan untuk membuat rokok kretek.

 

1.2  Tujuan

1.2.1   Umum

Memperoleh kemampuan untuk mengendalikan kondisi serta proses pengolahan tembakau di lapang atau dalam gudang pengering maupun sortasi, untuk memperoleh hasil olah sesuai dengan tujuan pengolahan.

 

1.2.2   Khusus

  1. Dapat melakukan sortasi daun tembakau basah/hijau dan kering/krosok dari jenis tembakau sigaret maupun cerutu (tembakau besuki naoogst atau besmo dan tembakau bawah naungan atau TBN) yang telah disediakan, berdasarkan ukuran panjangnya, kemudian menuliskan kelas ukurnanya.
  2. Dapat mengukur lebar dan indeks daun tembakau.
  3. Dapat menggambarkan bentuk dari beberapa jenis daun tembakau.
  4. Dapat membuat bagan kelas panjang ukur daun tembakau di beberapa daerah.
  5. Dapat membuat irisan daun pembalut (wrapper, deblad) dan pembungkus (binder, omblad) cerutu dengan pola yang sudah ditetapkan dari beberapa macam ukuran.
  6. Dapat menghitung berar nisbi ibu tulang daun (midrib) terhadap berat krosok.
  7. Dapat mengukur sudut yang dibentuk antara ibu tulang daun dengan cabang tulang daun.
  8. Dapat menggambarkan penampang melintang daun tembakau di bawah mikroskop.
  9. Dapat menentukan mutu bakar daun tembakau, yang meliputi: daya pijar, cepat bakar, sempurna bakar.
  10. Dapat menganalisis kadar nikotin tembakau sigaret dan cerutu.
  11. Dapat mengukur alkalinitas abu rokok secara volumetri.
  12. Dapat menentukan mutu daun tembakau berdasarkan warnanya.
  13. Dadat mengukur kadar air tembakau.
    1. Dapat menentukan kandungan klorofil daun tembakau dengan klorofilmeter.
    2. Dapat mengurai/mengorak sigaret/rokok dan cerutu, serta dapat menentukan komposisi sigaret/rokok maupun cerutu.

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Aspek Botani Tanaman Tembakau

Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam tanaman perkebunan. Pemanfaatan tanaman tembakau terutama pada daunnya yaitu untuk pembuatan rokok.

Tanaman tembakau diklasifikasikan sebagai berikut :

Famili : Solanaceae

Sub Famili : Nicotianae

Genus : Nicotianae

Spesies : Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica (Cahyono, 1998).

Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica mempunyai perbedaan yang jelas. Pada Nicotiana tabacum, daun mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga berbentuk terompet panjang, daunnya berbentuk lonjong pada ujung runcing, kedudukan daun pada batang tegak, merupakan induk tembakau sigaret dan tingginya sekitar 120 cm. Adapun Nicotiana rustica, daun mahkota bunganya berwarna kuning, bentuk mahkota bunga seperti terompet berukuran pendek dan sedikit gelombang, bentuk daun bulat yang pada ujungnya tumpul, dan kedudukan daun pada batang mendatar agak terkulai. Tembakau ini merupakan varietas induk untuk tembakau cerutu yang tingginya sekitar 90 cm (Cahyono, 1998).

Dalam spesies Nicotiana tabacum terdapat varietas yang amat banyak jumlahnya, dan untuk tiap daerah terdapat perbedaan jumlah kadar nikotin, bentuk daun, dan jumlah daun yang dihasilkan. Proporsi kadar nikotin banyak bergantung kepada varietas, tanah tempat tumbuh tanaman, dan kultur teknis serta proses pengolahan daunnya (Abdullah, 1982).

 

Gambar 1. Tanaman tembakau (http://discoveringannuals.com/manual.html)

2.2 Macam-Macam Jenis Tembakau dan Pengolahan Secara Umum

Berdasarkan penggunaannya, tanaman tembakau spesies Nicotiana tabacum dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

a)      Tembakau Cerutu

Secara umum tembakau cerutu dikenal ada 3 macam sesuai dengan fungsinya pada pembuatan rokok cerutu yaitu :

  1. Tembakau Pengisi

Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pengisi adalah tembakau Vorstenland. Tembakau ini berdaun banyak sehingga tampak rimbun, warna daun hijau, ketebalan daun tipis sampai sedang, daun terkulai sehingga kedudukannya tampak mendatar dan habitus piramidal.

Krosok tembakau Vorstenland setelah pengolahan berwarna coklat kemerahan. Krosok yang terbaik diperoleh dari daun kaki, sedangkan daun yang berada di atas umumnya digunakan sebagai pembalut dalam industri rokok cerutu.

Budidaya tembakau Vorstenland pada umumnya di lereng kaki gunung Merapi sebelah tenggara, yang terdiri dari tanah vulkanis (tanah abu muda yang berwarna kelabu). Pusat tanaman tembakau berada di sekitar Kabupaten Klaten yang membujur dari arah Solo–Jogya, sedang sebagian lain terletak di sekitar Kecamatan Bangak, yakni antara Kartasura dan Boyolali (Cahyono, 1998).

  1. Tembakau Pembalut

Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pembalut adalah tembakau Besuki. Tembakau ini memiliki sosok ramping dan ketinggiannya sedang sampai agak tinggi. Daunnya berbentuk oval, kedudukan daun pada batang agak tegak, jarak daun satu dengan yang lain agak berjauhan, lebar daun sedang sampai lebar, habitus silindris, ketebalan daun tipis, daunnya lunak, dan memiliki aroma yang khas.

Krosok yang baik dari tembakau Besuki berwarna coklat tua, coklat muda, dan kuning. Daun terbaik untuk pembalut cerutu ataupun pembungkus cerutu adalah yang berasal dari daun kaki.

  1. Tembakau Pembungkus

Tembakau yang biasa digunakan sebagai pembungkus adalah tembakau Deli. Tembakau ini bercirikan dengan keadaan tanaman yang kokoh dan besar dengan ketinggian tanaman sedang, daunnya tipis dan elastis, bentuk daun bulat dan lebar, kedudukannya pada batang tampak mendatar, bermahkota tipe silindris, dan warna daun cerah.

Daun tembakau Deli yang telah mengalami pengolahan dengan pengeringan berwarna coklat agak kelabu yang merupakan ciri khas krosok tembakau Deli. Krosok yang demikian umumnya diperoleh dari daun pasir (daun yang letaknya paling dekat dengan tanah) dan sebagian daun kaki. Warna krosok tersebut sangat berbeda dengan warna krosok tembakau Kuba yang berwarna coklat kemerahan sehingga sangat mudah dibedakan antara tembakau Deli dan tembakau Kuba.

(Matnawi, 1997).

b)      Tembakau Sigaret

Jenis tembakau ini digunakan sebgai bahan pembuatan rokok sigaret, baik sigaret putih maupun sigaret kretek.

ü Tembakau Virginia

Jenis tembakau virginia cukup mudah dibedakan dari jenis yang lain karena memiliki kenampakan (dari daunnya) yang agak berbeda. Tembakau virginia memiliki daun yang berwarna kekuning-kuningan. Bentuk daunnya panjang sampai jorong (elliptical), tetapi terkadang bulat telur (ovalis). Ujung daunnya lancip.

Tembakau virginia yang berkualitas baik, melalui pengolahan daun flue curing akan menghasilkan krosok yang berwarna kuning jingga/limau. Di samping warnanya yang menarik, ciri khas virginia adalah aromanya (Setiadji, 2011).

ü  Tembakau Oriental

Tembakau Oriental memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis tembakau lain yaitu terletak pada aroma yang harum dan khas. Karena aromanya yang khas, tembakau Oriental/Turki juga disebut sebagai aromatic tobacco. Tembakau Turki digunakan oleh semua pabrik rokok sebagai campuran yang dapat meningkatkan mutu rokok sigaret (Abdullah, 1982).

ü Tembakau Burley

Tembakau Burley bercirikan warna daun hijau pucat, batang dan ibu tulang daun berwarna putih krem, daun tergolong ukuran besar (90–160 cm2), tanaman lebih banyak berbentuk silindris daripada piramida, tinggi tanaman sekitar 180 cm. Krosok daun tembakau Burley setelah pengolahan menjadi tipis, berwarna coklat kemerah–merahan, halus dan lunak, serta beraroma sedap (Abdullah, 1982).

c)      Tembakau Pipa

Tembakau pipa dimaksudkan adalah jenis tembakau yang digunakan untuk pipa. Tembakau pipa berasal dari Lumajang yang mempunyai kenampakan yang tinggi, ramping, dengan duduk daun yang mirip dengan varietas tembakau cerutu Besuki maupun Vorstenland.

Hal yang menyebabkan tembakau ini berkualitas tinggi karena memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Ø Warna daunnya terang menyala (bright) kecoklatan hingga coklat merah
  • Ø Daya pijarnya baik sekali, serta
  • Ø Ringan dan kenyal

(Setiadji, 2011).

 

2.3 Tanda-Tanda Mutu Jenis Tembakau Cerutu dan Sigaret

Setiap bagian cerutu memerlukan jenis tembakau dengan sautu persyaratan dan suatu mutu tertentu seperti dapat disebutkan di bawah ini:

1)      Pembalut

ü Daun cukup masak dan sehat

ü Daun utuh, tidak cacat

ü Daun lebar, elastis dan tidak robek

ü Dikehendaki daun dengan panjang lebih dari 35 cm

ü Hasil curing cukup baik

ü Warna seragam (uniform), bersih dan rata

ü Daun tipis dan lemas, halus (supel)

ü Daya pijar baik

ü Rasa dan aroma netral atau aroma sedikit ringan

2)      Pembungkus

ü Daun cukup tua dan sehat

ü Daun boleh sedikit tebal dibandingkan pembalut

ü Daun masih elastis, relatif masih tipis

ü Hasil curing termasuk baik

ü Daun lebar, dikehendaki panjang 30 cm

ü Warna agak rata sampai sedikit kotor

ü Mutu bakar cukup baik

ü Memiliki aroma yang baik, boleh sedikit ringan dan rasa gurih

3)      Pengisi

Pengisi merupakan bagian terbesar dari cerutu, terdiri dari rajangan/irisan krosok. Mutu dapat lebih rendah dibandingkan jenis pembalut maupun pembungkus. Cerutu terdiri dari bagian pengisi 85%, pembungkus 10,5% dan pembalut 4,5%.

  • Pengisi Baik

–     Didapat dari daun yang cukup masak, berisi dan sehat

–     Berasal dari daun agak masak, warna merata

–     Rasa ringan sampai berat, flavor baik

–     Daya bakar baik

  • Pengisi Sedang

–     Didapat dari daun kurang masak

–     Warna tidak begitu rata dan agak gelap

–     Kuat elastis

–     Rasa dapat tajam atau pedas

  • Pengisi Jelek

–     Berasal dari daun kurang masak dan tidak begitu sehat

–     Daun kurang segar, warna kurang besih

–     Didapat dari pengeringan (curing) yang kurang baik

–     Daun dari kelas rendah, rapuh atau agak keropos

–     Aroma kurang sampai jelek karena berasal dari daun yang umumnya kurang bermutu

Tembakau sigaret dibedakan atas tembakau sigaret rokok putih dan rokok kretek. Beberapa syarat umum tembakau sigaret putih:

  • Krosok hendaknya mempunyai panjang minimum 15-20 cm
  • Panjang kurang dari ukuran tersebut masih dimungkinkan, asal tembakau beraroma baik, kesegaran bagus dan harum.
  • Warna berkisar dari kuning cerah, kuning limau sampai kuning keemasan.
  • Mempunyai tekstur baik, halus, pegangan baik, lemas atau supel dan tidak terasa kaku
  • Mempunyai daya isi yang baik
  • Daya bakar bagus dengan rasa ringan
  • Kandungan nikotin diharapkan kurang dari 1,0%

Sedangkan tembakau kretek memiliki persyaratan umum:

  • Tembakau dalam bentuk rajangan halus sampai kasar.
  • Tembakau rajangan umumnya berdaun relatif tebal. Daun-daun tebal diperoleh dari bagian daun tengah sampai pucuk.
  • Warna daun tergantung jenis/varietas tanaman, umumnya warna coklat tua sampai coklat kehitaman.
  • Body berat, bersifat aromatik harum/bau manis
  • Daun seolah bergetah, mengkilap sedikit berminyak.
  • Rasa harus tidak beriritasi nyegak (menyebabkan batuk).
  • Daya bakar, artinya tidak cepat padam bila dirokok.

(Setiadji, 2011).

 

2.4 Hal-Hal yang Mempengaruhi Mutu

Penilaian mutu tembakau tidak terlepas dari sifat dasar tembakau sendiri sebagai sifat intrinsik, tujuan penggunaan, dan akhirnya kepuasaan konsumen, sehingga mutu tembakau mencapai aspek yang sangat luas sekali.

Unsur-unsur yang berpengaruh terhadap mutu tembakau dan yang dapat digunakan sebagai pengukur mutu tembakau antara lain:

  • Ukuran, bentuk dan letak daun

Merupakan unsur mutu yang penting karena menentukan rendemen yaitu banyaknya daun yang akan dibuat dari tipa-tiap helai daun. Selain itu merupakan pertimbangan untuk komponen rokok cerutu. Daun berdasarkan letaknya mulai dari bawah ke atas terdiri dari, daun koseran (1-5 helai), daun kaki (6-13 helai), daun tengah (14-22 helai), dan daun pucuk (sekitar helai atau lebih). Bentuk daun koseran umumnya tipis dan bulat, daun kaki agak tebal dan bulat, daun tengah tebal dan bulat panjang, sedangkan daun pucuk paling tebal dana agak memanjang.

  • Tulang dan lamina

Rangka daun terletak tepat di bagian tengah daun disebut ibu tulang daun atau midrib. Cabang tulang daun sekunder terletak menyirip lebih disebelah kiri kanan midrib. Cabang sekunder bercabang lebih kecil atau sebagai anak cabang yang saling bertemu membentuk tenunan. Bagian kiri dan kanan midrib berupa suatu lembaran daun, disebut lamina daun. Bagian midrib proposi beratnya rata-rata 25% dari berat daun.

  • Tenunan Daun

Sifat tenunan daun pada beberapa jenis tembakau mempunyai arti penting dalam penilaian mutu. Tenunan halus dikehendaki untuk tembakau cerutu pembalut maupun pembungkus, karena diharapkan menghasilkan aroma yang baik, dan rasa ringan. Pada tembakau pangisi, tenunan daun tidak banyak berpengaruh. Tenunan yang halus dan teratur dapat menyebabkan rata dan baiknya pembakaran.

  • Tebal Daun

Tebal daun rata-rata dihitung dari bagian epidermis atas sampai epidermis bawah sekitar 200-400 mikron. Helaian daun tembakau, tipis pada bagian pangkal dan pada daerah dekat pusat dan agak berkurang dari midrib. Tebal daun dipengaruhi letak daun pada batang. Semakin ke atas letak daun pada batang, semakin tebal daun tersebut.

  • Kepadatan Jaringan

Adalah suatu keadaan struktur dan tekstur daun. Keadaan kering menyebabkan terbentuknya sel-sel yang kecil dan berbutir. Keadaan kering mampat (close grained), dengan ruang sel yang kecil. Dikatakan tekstur yang mampat karena sifat bakarnya cenderung kurang baik. Lebih disukai tekstur yang longgar/terbuka (open grained). Tembakau yang dipetik tepat masak dan dikeringkan dengan baik memiliki struktur dalam berpori/butiran (grain). Butirannya berkembang baik mempunyai sifat bakar yang baik.

  • Berat per satuan luas

Berkurangnya rendemen akan mengakibatkan penurunan mutu. Rendemen krosok umumnnya 12-16%, tembakau virginia 14,3-16,6%, tembakau yang diolah secara curing atau pepean (sun drying) sekitar 8-12%. Tembakau rakyat rajangan, pepean menghasilkan rendemen sekitar 6-7,5%.

  • Keelastisan atau kelentingan

Merupakan kemampuan tembakau yang dalam keadaan cukup lembab dapat direntangkan sampai batas tertentu tanpa menjadi robek. Faktor yang berpengaruh terhadap keelastisan adalah varietas, keadaan lingkungan, teknik budidaya, letak daun pada batang, kemasakan, dan kadar air krosok.

  • Bodi

Merupakan kelunakan/kelembutan daun tembakau yang disebabkan oleh bagian semi cair, tanpa dipengaruhi ketebalan dan tekstur. Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi tanah, iklim, teknik budidaya, serta letak daun pada batang.

 

 

  • Mutu Bakar

Beberapa sifat yang mencangkup dalam hal ini antara lain daya membara, kecepatan membara, sempurnanya pembakaran, keteguhan abu.

  • Kuat fisiologis

Merupakan kriteria penilaian tembakau sehubungan dengan kandungan penyusun yang akan mempengaruhi fisiologis pemakai.

  • Warna

Merupakan sifat dasar yang dimiliki setiap jenis tembakau, baik dalam bentuk basah maupun krosok yang bersifat genetis.

  • Aroma

Dengan adanya fermentasi krosok akan mempunyai aroma yang baik. Aroma paling penting adalah yang timbul jika tembakau dibakar. Aroma ini adalah hasil destilasi kering dari bahan-bahan gum.

(Anonim, 2011).

 

2.5 Komposisi Tembakau

Tembakau terdiri atas ribuan komponen, komponen utamanya adalah nikotin, tar dan karbonmonoksida.

  • Nikotin

Nikotin dengan cepat masuk ke otak begitu anda merokok. Nikotin adalah racun. 30 mg nikotin menyebabkan kematian.Meski orang merokok dengan rata-rata 15-20 mg nikotin, hanya sebagian yang diabsorbsi oleh perokok. Setiap rokok rata-rata mengandung 0.1-1.2 mg nikotin. Masuknya nikotin , tar dan komponen lain, dipengaruhi juga oleh teknik merokok, seperti inhalasi dalam dan panjang, penggunaan filter.

  • Tar

Tar bukanlah zat tunggal, terdiri atas ratusan bahan kimia gelap dan lengket, ia tergolong racun pembuat kanker. Banyak pabrik rokok tidak mencantumkan kadar tar dan nikotinnya dalam rokok yang dihasilkannya. Rokok Sampoerna Mild mengandung tar 1.5 mg per batang rokok.

  • Karbonmonoksik (CO)

Karbonmonoksik (CO) merupakan jenis racun yang terhembus dari rokok dibakar. CO didalam asap rokok masuk kedalam pembuluh darah, kemudian CO mengusir oksigen dari ikatannya dengan hemoglobin dalam butir darah merah. Ikatan CO dengan hemoglobin (COHb) akan membuat hemoglobin tak mampu melepaskannya, sehingga fungsi hemoglobin sebagai alat angkut oksigen bergantian dengan CO2 (karbondioksida) tidak lagi bekerja. Dengan demikian kerja jantung menjadi tambah berat (Frankenburg, 1946).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1    Alat dan Bahan

3.1.1        Alat

–     Penggaris

–     Neraca analitik

–     Kompor

–     Erlenmeyer

–     Spatula

–     Hot plat

–     Botol

–     Oven

–     Eksikator

–     Stopwatch

–     Kawat

–      

3.1.2        Bahan

–     Daun tembakau

–     indikator PP

–     1 gr krosok

–     Aquades

–     H2SO4

–     Rokok

–     NaOH

 

3.2    Skema Kerja

  1. a.      Berat Nisbi

 

       
     
 
   

 

 

 

 

           

 

 

 
   

 

                                                                                          

 

  1. b.      Mutu Bakar

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. c.       Alkalinitas

 

           
     
 
     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. d.      Komposisi Berat

 

       
   
 
     

 

 

 

 

 

                                                                             

  1. e.       Kadar Nikotin

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. f.       Sifat Higroskopis

 

       
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                           

 

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN HASIL PERHITUNGAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

a. Berat Nisbi

Kel

Jenis daun tembkau

Panjang

(P) (cm)

Lebar

(L) (cm)

Mutu

Berat daun (A) gram

Berat tulang daun (B) gram

1

Koseran

44

22

1

3,53

1,26

2

3

Tengah

47

23

1

2,60

0,97

4

Pucuk

40

22,5

2

3,13

1,21

5

Kaki

51

22,5

1

3,14

1,08

 

b. Mutu Bakar

  • Tembakau Krosok

Kel

Jenis daun tembakau

Waktu pijar (detik)

Hasil

1

Kaki

28

1 curah menyebar

2

Tengah

22

1 curah menyerah

3

Pucuk

6

1 curah menyerah

 

  • Tembakau Rajangan

Kel

Jenis daun tembakau

Waktu pijar (detik)

Warna

Aroma

4

Galek

10

Coklat tua

Menyengat

5

Besuki

52

Coklat muda

Tdk menyengat

 

c. Alkalintas

Kel

Alkalinitas daun tembakau

Ml H2SO4  (A)

N H2SO4  (B)

Ml sampel (C)

1 & 2

2,3 ml

0,1 N

20 ml

3 & 4

1,4 ml

0,1 N

20 ml

5

7,5 ml

0,1 N

20 ml

 

d. Sifat Higroskopis

Kel

Perlakuan

A gram

B gram

C gram

1

Simpan terbuka

21,34

22,16

22,0428

22,0429

22,0430

2

3

Simpan kertas

22,23

23,27

23,0606

23,0607

23,0609

4

5

Simpan kardus

23,04

24,05

23,8753

23,8754

23,8758

 

 

e. Komposisi Berat dan Kadar Nikotin

Kel

Jenis

Rasa

Komposisi berat

Berat Awal

Jumlah titrasi

Dekblad

omblad

Filler

1

Filo Black

+++

0,0816

0,7816

0,9802

3,6 ml

2

Djarum Black

+++

0,0997

0,8846

1,1116

5,6 ml

3

Argopuro

+

0,21

0,40

4,01

3,9092

3,1 ml

4

Djarum 76

++++

0,0977

1,585

1,9128

5,1 ml

5

Cardinal

++

0,19

0,38

3,93

3,3115

3,1 ml

 

4.2 Hasil Perhitungan

a. Berat Nisbi

Kelompok

Jenis tembakau

Berat Nisbi (%)

1 & 2

Koseran

36,7

3

Tengah

37,3

4

Pucuk

38,7

5

Kaki

34,4

 

b. Mutu Bakar

 

 
   

 

c. Alkalinitas

Kelompok

Alkalinitas

1 dan 2

575

3 dan 4

350

5

1875

 

d. Sifat Higroskopis

 

Kelompok

KA (%)

1 & 2

14,28

3 & 4

20,13

5

17,28

 

 

 

 

 

 

 

e. Komposisi Berat dan Kadar Nikotin

 

Kelompok

Komposisi bahan

Kadar nikotin

Dekblad

Omblad

Filler

1

8,32%

79,74%

5,84

2

8,97%

79,58%

9,08

3

5,37%

10,23%

102,23%

5,03

4

5,10%

82,86%

8,27

5

5,74%

11,48%

118,68%

5,03

                                                                                    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5. PEMBAHASAN

 

5.1 Berat Nisbi

Diharapkan daun tembakau memiliki tulang daun relatif kecil /halus, sehingga berat nisbinya relatif kecil. Semakin kecil berat nisbi daun semakin baik, terutama untuk pembalut dan pembungkus.

Prosedur kerjanya yaitu menghitung panjang, lebar, dan mutu daun yang  kemudian dimbang berat daun sebagai A gram dan dimbang tulang daun sebagai B gram setalah itu dihitung berat nisbinya. Hasil dari pengukuran berat nisbi merupakan untuk jenis daun koseran dihasilkan 36,7 %, untuk jenis daun tengah dihasilkan 37,3 %, untuk jenis daun pucuk dihasilkan 38,7 %, untuk jenis daun kaki dihasilkan 34,4 %. Dari hasil tersubut didapatkan bahwa jenis daun kaki memiliki mutu yang bagus yaitu 34,4%, karena berat nisbinya kecil, semakin kecil berat nisbi maka mutu daun semakin baik.

 

5.2 Mutu Bakar

Mutu bakar adalah salah satu pengukur penilaian mutu tembakau yang digunakan sebagai rokok maupun cerutu. Mutu bakar meliputi sifat-sifat daya bakar, kecepatan membara, sempurna tidaknya pembakaran. Pada umumnya dikehendaki kecepatan membara relatif lambat, dengan kerataan membara ke segala jurusan, yang cukup.

Prosedur kerjanya adalah kawat dipanaskan hingga merah kemudian ditusukkan pada lamina daun dan hitung dengan stopwatch. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa untuk jenis tembakau kaki waktu pijarnya 28 detik, dengan hasilnya 1 arah menyebar, untuk jenis tembakau tengah waktu pijarnya 22 detik hasilnya 1 arah menyebar, untuk jenis tembakau pucuk waktu pijarnya 6 detik dengan hasilnya 1 arah menyebar. Sedangkan pada jenis tembakau Galek, waktu pijar 10 detik dengan warna coklat tua dan aromanya menyengat, untuk jenis tembakau Besuki dengan waktu pijar 52 detik dengan warna coklat muda dan aromanya tidak menyengat. Hal ini dapat diketahui jenis tembakau Besuki lebih bagus mutunya karena waktu pijarnya lama.

 

5.3 Alkalinitas

Prosedur kerjanya yaitu menyipkan 1 gram krosok halus ditambah 20 ml aquades, dimasukkan dalam erlenmeyer  kemudian diambil filtratnya sebanyak 20 ml, lalu ditetesi indikator PP sebanyak 10 tetes untuk mengetahui kandungan OH dan CO2. Jika larutan berwarna merah maka ditambah 2-3 tetes metil oranye dan dititrasi dengan H2SO4, hingga warnanya merah muda. Apabila larutannya yang ditetesi indikator PP berwarna merah lembayung maka langsung dititsi dengan H2SO4 sampai warna merahnya hilang, kemudian catat volume H2SO4nya. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut bahwa alkalinitas pada kelompok 1 dan 2 adalah 575, pada kelompok 3 dan 4 adalah 350, dan pada kelompok 5 adalah 1875. Dari hasil tersebut diketahui bahwa dari nilai alkalinitas pada kelompok 5 yang terbesar yaitu 1875, bahwa kemampuan tembakau mengubah pH menjadi alkalis atau basa sangat tinggi saat proses fermentasi. 

 

5.4 Komposisi Berat

Dari setiap sampel memiliki komponen penyusun yang berbeda-beda, tergantung pada tipe dari rokok. Ada yang terdiri atas dekblad, omblad, dan fillere. Ada juga yang tidak memiliki omblad atau dekblad. Deblad adalah pembalut, omblad adalah pembungkus, dan filler adalah isi yaitu tembakau.

            Prosedur kerjanya  adalah rokok atau cerutu ditimbang sebagai A gr, rokok atau cerutu tersebut diambil dekblad, omblad, & filler sebagai B gr, lalu dihitung komposisi beratnya. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui untuk kelompok 1 (Filo black) dekbladnya 8, 32%, dan untuk fillernya 79,74%. Untuk kelompok 2 (Djarum black) dekbladnya 8,79%, dan fillernya 79,58%. Untuk kelompok 3 (Cerutu argopuro) dekbladnya 5,37%, ombladnya 10,23%, dan fillernya 102,58%. Untuk kelompok 4 (Djarum 76) dekbladnya 5,10%, dan fillernya 82,86%. Untuk kelompok 5 (Cerutu cardinal) dekbladnya 5,74%, ombladnya 11,48%, dan fillernya 118,68%. Dari hasil tersebut diketahui bahwa filler terbesar ada pada kelompok 5 yaitu cerutu cardinal, dan untuk rokok tidak ada ombladnya (pembungkus), tetapi pada cerutu terdapat ombladnya.

 

5.5 Kadar Nikotin

Nikotin adalah zat yang terkandung dalam daun tembakau. Setiap kali seseorang menghirup bahan-bahan yang mengandung nikotin maka zat ini akan masuk dalam tubuh dan bersemayan pada otak. Setiap 1 batang rokok mengandung sedikitnya 10 miligram nikotin. Nikotin ini yang membuat orang kecanduan untuk merokok.

Prosedur kerjanya adalah 1 gram tembakau halus ditambah 1 ml NaOH 20% agar menstabilkan pH. Lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan diaduk rata lalu ditambah benzene sebanyak 20 ml untuk melarutkan nikotin. Gojok hingga rata sambil menekan tutupnya. Setelah itu diamkan selama 2 jam hingga bagian atasnya jernih. Saring dan ambil 10 ml larutan, masukkan ke dalam erlenmeyer, uapkan diatas penangas + 2 ml selama 2 menit untuk menghilangkan sisa benzene. Setelah itu ditambah 20 ml aquadest dan metil merah 5 tetes sebagai indikator warnanya, titrasi dengan 0.01 N HCl hingga merah. Dari hasil perhitungan didapatkan untuk kadar nikotin pada kelompok 1 (filo black) 5,84, untuk kelompok 2 (Djarum black) 9,08, untuk kelompok 3 (cerutu argopuro) 5,03, untuk kelompok 4 (Djarum 76) 8,27, untuk kelompok 5 (cerutu cardinal) 5,03. Kadar nikotin terbesar terdapat pada kelompok 2 (Djarum black) yaitu 9,08, hal ini diakrenakan mutunya lebih bagus, karena semakin besar kadar nikotin yang terkandung maka semakin bagus mutunya.

 

5.6 Sifat Higroskopis

Sifat higroskopis tergantung dari jenis dan tingkat mutu tembakau. Tembakau yang terlalu higroskopis akan peka terhadap minyak. Sifat higroskopis mempunyai hubungan dengan kadar nitrat di dalam tangkai daun.

            Prosedur kerjanya adalah daun tembakau diberi beberapa perlakuan yaitu disimpan dalam kardus, dibiarkan terbuka dan dibungkus koran kemudian disimpan selama 48 jam. Botol ditimbang sebagai a gram, tembakau yang diberi perlakuan ditumbuk halus dan di timbang sebanyak 1 gram dan dimasukkan dalam botol. Kemudian di oven selama 24 jam pada suhu 100oC, setelah itu di eksikator selama 15 menit untuk menjaga kelembaban, kemudian botol ditimbang sebanyak 3 kali sebagai C gram. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hasil yaitu untuk tembakau yang disimpan terbuka kadar airnya 14,28%, untuk yang disimpan dengan kertas koran kadar airnya 20,13%, dan untuk yang disimpan dalam kardus kadar airnya 17,28%. Diketahui bahwa kadar airnya terbesar ada pada daun tembakau yang dibungkus kertas koran, karena kemampuan higroskopisnya besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 6. PENUTUP

 

6.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:

  • Ø Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam tanaman perkebunan. Pemanfaatan tanaman tembakau terutama pada daunnya yaitu untuk pembuatan rokok.
    • Berdasarkan penggunaannya, tanaman tembakau spesies Nicotiana tabacum dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: tembakau cerutu, tembakau sigaret, dan tembakau pipa.
    • Hal-hal yang mempengaruhi mutu tembakau antara lain : ukuran, bentuk dan letak daun, tulang dan lamina, tenunan daun, tebal daun, kepadatan jaringan, berat per satuan luas, keelastisan, bodi, getah atau gum, mutu bakar, kuat fisiologis, warna, aroma, rasa dan sifat higroskopis.
    • Komposisi tembakau antara lain yaitu nikotin, tar dan kabonmonoksik.
    • Berdasarkan hasil perhitungan nisbi jenis daun kaki memiliki mutu yang bagus yaitu 34,4%, karena berat nisbinya kecil, semakin kecil berat nisbi maka mutu daun semakin baik.
    • Berdasarkan hasil pengamatan  didapatkan bahwa untuk jenis tembakau kaki waktu pijarnya 28 detik, untuk jenis tembakau tengah waktu pijarnya 22 detik, untuk jenis tembakau pucuk waktu pijarnya 6 detik dengan hasilnya 1 arah menyebar. Sedangkan untuk jenis tembakau Galek dengan waktu pijar 10 detik dengan warna coklat tua dan aromanya menyengat, untuk jenis tembakau Besuki dengan waktu pijar 52 detik dengan warna coklat muda dan aromanya tidak menyengat. Hal itu berarti jenis tembakau Besuki lebih bagus          mutunya karena waktu pijarnya lebih lama.
    • Dari hasil untuk pengamatan alkalinitas diketahui bahwa nilai alkalinitas pada kelompok 5 yang terbesar yaitu 1875, itu berarti bahwa kemampuan tembakau mengubah pH menjadi alkalis atau basa sangat tinggi saat fermentasi. 
    • Dari hasil untuk komposisi berat diketahui bahwa filler terbesar ada pada kelompok 5 yaitu cerutu cardinal, dan untuk rokok tidak ada ombladnya (pembungkus), tetapi pada cerutu terdapat ombladnya.
    • Dari hasil untuk kadar nikotin terbesar ada pada kelompok 2 (Djarum black) yaitu 9,08, hal itu berarti mutunya lebih bagus, karena semakin besar kadar nikotin yang terkandung maka semakin bagus mutunya.
    • Dari hasil untuk kadar airnya/sifat higroskopis terbesar ada pada daun tembakau yang dibungkus kertas koran, karena kemampuan higroskopisnya besar.

 

 

6.2 Saran

            Terima kasih ea mbk2 n mas yang telah menjadi asisten yg baik bagi kami…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdullah, Ahmad dan Soedarmanto. 1982. Budidaya Tembakau. Jakarta : CV Yasaguna

 

Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Pengolahan Hasil Pertanian Tembakau, Gula dan Lateks. Jember: FTP UNEJ

 

Cahyono, Bambang. 1998. TEMBAKAU, Budi daya dan Analisis Tani. Yogyakarta : Kanisius

 

Matnawi, Hudi. 1997. Budidaya Tembakau Bawah Naungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Frakenburg, W. G. 1946. Chemical Changes in The Harvested Tobacco Leaf I, Adv. Enzymol., 6.

 

Setiadji. 2011. Teknologi Pengolahan Tembakau. Jember : FTP Universitas Jember.

 

http://discoveringannuals.com/manual.html  (Diakses tanggal 20 Des 2011)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Setiap bagian pohon karet jika dilukai akan mengeluarkan getah susu yang disebut lateks. Banyak tanaman jika dilukai akan mengeluarkan cairan putih yang menyerupai susu, tetapi hanya beberapa pohon saja yang menghasilkan karet. Diantara tanaman tropis hanya havea bracileansis yang telah dikembangkan dan mencapai tingkat perekonomian yang penting.

Di Indonesia, sebagian besar perkebunan yang ada merupakan perkebunan rakyat. Namun, petani rakyat ini sebagian besar tidak menentukan besarnya pengeluaran dalam pengusahaan karet, padahal karet alam  memerlukan penanganan sebaik-baiknya agar menguntungkan, apalagi jika harus dibandingkan dengan karet sintetis dimana harganya bisa dipertahankan supaya tetap stabil.

Dalam perkembangannya getah karet atau lateks tidak hanya digunakan dalam industri ban saja. Semakin lama banyak barang yang dibuat dengan berbahan dasar lateks. Mulai dari sarung tangan operasi hingga barang barang kebutuhan sehari – hari.

Lateks dapat diolah dalam bentuk karet sheet, crepe, lateks pekat dan karet remah (Crumb rubber). Dalam praktikum ini akan dipelajari tahap-tahap pengolahan lateks menjadi karet sheet dan juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi mutu karet yang dihasilkan.

 

1.2  Tujuan

1.2.1   Umum

Dapat memahami proses pengolahan lateks, faktor-faktor proses, pengendalian proses dan mutu yang dihasilkan.

1.2.2   Khusus

–          Dapat menjelaskan pengaruh kualitas bahan dasar terhadap kualitas karet yang dihasilkan.

–          Dapat menjelaskan beberapa macam proses pengolahan macam proses pengolahan karet alam yaitu karet sheet, crepe, lateks dan crumb rubber.

–          Dapat menjelaskan cara-cara pengawasan mutu pada karet sheet, crepe, lateks pekat dan crumb rubber.

 

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

–        Beaker glass

–        Spatula

–        Oven

–        Neraca analitik

–        Plastik

–        Alat penggiling

–        Alat saring

3.1.2 Bahan

–        Asam format

–        Asam asetat

–        Lateks

–        Larutan CMC

–        Air

 

3.2 Skema Kerja

3.2.1 Perhitungan KKK Lateks Segar

 

100 ml lateks segar

+ asam format 1%10ml

+ asam asetat 1%10ml

Dipanaskan dan diaduk perlahan hinga menggumpal

Digiling

Dikeringkan

Hitung faktor pengeringan

Tentukan dan amati KKK, aroma, tekstur dan warnanya

Ditimbang berat basah (a gram)

Dioven (500C)

Ditimbang bera kering (b gram)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2.2 Pengenceran Lateks

 

200 ml Lateks segar

Disaring

Tentukan KK dan KE nya

Tambahkan air sesuai perhitungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

300 ml Lateks

3.2.3 Penagaruh Penambahan Bahan Dadih

 

Disaring

Ditambahkan larutan CMC 1%

Sebanyak 10ml pada setiap perlakuan

Diaduk

Didiamkan selama 4,7,8 hari

Amati warna, tekstur dan aroma dan tentukan KKKnya

4 hari

7 hari

8 hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Klasifikasi Tanaman Karet

Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer.

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi botani tanaman karet sebgai berikut:

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Keluarga          : Euphorbiaceae

Genus              : Hevea

Spesies            : Hevea brasiliensis

(Habibie, 2009).

 

2.2 Pengertian, Sifat dan Kandungan Kimia Lateks

Lateks adalah suatu istilah yang dipakai untuk menyebut getah yang dikeluarkan oleh pohon karet. Lateks terdapat pada bagian kulit, daun dan integument biji karet. Lateks merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang banyak mengandung bermacam-macam zat. Warna lateks adalah putih susu sampai kuning. (Djumarti 1998).

Karet mempunyai sifat kenyal (elastis), sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Lateks sendiri membeku pada suhu 32oF karena terjadi koagulasi.(Goutara, dkk: 1985)

Lateks mengandung 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-77 % serum (air dan zat yang larut). Karet mentah mengandung 90-95 % karet murni, 2-3 % protein, 1-2 % asam lemak, 0,2 % gula, 0,5 % garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara merata)dalam serum lateks dengan ukuran 0,004-3 mikron, atau 0,2 milyar partikel karet per millimeter lateks. (Goutara, dkk: 1985).

 

2.3 Tahapan Pengolahan Karet Secara Umum

  1. Penerimaan Lateks Kebun

Lateks kebun terlebih dahulu ditimbang dan ditentukan kadar karet karet keringnya (KKK), yaitu dengan mengambil lateks sebanyak 50-100 ml ditambah 10-20 ml larutan asam pimat 1 purin hasil pembekuan digiling dengan gilingan laboratorium (tangan) sampai diperoleh lembaran tipis.

  1. Pengenceran Lateks

Sebelum diencerkan, lateks disaring dulu. Penentuan jumlah air yang diperlukan untuk mengencerkan dengan KKK kebun menjadi lateks encer KKK tertentu 15%.

 

 

  1. Pembekuan

Lateks yang sudah diencerkan lalu ditambah larutan format 1% sebanyak 55,5 ml tiap liter lateks atau asam asetat 2% dengan KKK 15%.

  1. Penggilingan

Setelah diperoleh lembaran koagulan yang tebal dan basah kemudian dilakukan penggilingan dengan tujuan mengeluarkan sebagian air, memperluas permukaan sheet dengan menipiskan dan memberi lambang (print) serta menyeragamkan mutu penggilingan karet dilakukan dengan baterai sheet yang terdiri dari 4-6 gilingan beroda 2.

  1. Pengasapan dan Pengeringan

Bertujuan untuk mengawetkan sheet karena mengandung phenol yang dapat mencegah tumbuhnya mikroorganisme dan sheet.

  1. Sortasi dan Pembungkusan

Setelah melalui pengasapan dan pengeringan sheet dipilih menjadi beberapa macam mutu berdasarkan persyaratan tertentu.

(Anonim, 2011).

 

2.4 Jelaskan Perbedaan Pengolahan Karet Sheet dan Crape

Dalam pengolahan karet jenis sheet dan crepe biasanya digunakan mesin penggilingan.Di kalangan pengolahan lateks, mesin ini sering disebut baterai sheet. Baterai sheet ada yang terdiri dan 4, 5, atau 6 gilingan beroda dua.  Baterai sheet yang merniliki 4 gilingan beroda   dua contohnya adalah merek Cadet. Sedangkan yang memiliki 5 dan 6 gilingan beroda dua masing-masing contohnya adalah merek Aristo dan Six in One. Kapasitas setiap jenis baterai sheet berbeda dan tergantung pada ketebalan sheet yang akan dibuat Mesin penggilingan untuk crepe dikenal dengan nama baterai crepe.Jumlah gilingan beroda dua yang ada biasanya 3, 4, atau 5 gilingan. Baterai crepe dengan 3 gilingan beroda dua biasanya kurang memberikan hasil gilingan yang memuaskan, yang paling baik adalah baterai crepe dengan 5 gilingan.

            Selama proses penggilingan, mesin-mesin berjalan terus menerus.Pada gilingan terakhir selalu terdapat patron yang disebut printer yang berbentuk spiral.Patron berfungsi  memperbesar permukaan sheet serta bisa mempercepat jalannya pengeringan (Habibie,2009).

 

 

 

2.5 Manfaat Lateks

Karet alam banyak digunakan dalam berbagai industri. Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-sehari maupun dalam usaha industri mesin-mesin penggerak. Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan, sepatu karet, sabun penggerakmesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam.

Bahan baku karet banyak digunakan untuk membuat perlengkapan seperti sekat atau tahanan alat-alat penghubung dan penahan getaran. Karet juga bisa dipakai untuk tahanan dudukan mesin serta dipasang pada pintu, kaca pintu, kaca mobil, dan pada alat-alat lainnya (Nopianto,2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN HASIL PERHITUNGAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

a. Perhitungan KKK Lateks Segar

Perlakuan

a gram

b gram

Warna

Tekstur

Aroma

+asam format

22,44

15,96

+ 1

+ 3

+ 2

+asam asetat

20,82

14,71

+ 1

+ 2

+ 1

 

b. Pengenceran Lateks

ml Lateks

KKK

KE

Ʃ air yang di +

200

17

15

26 ml

 

c. Pengaruh Penambah Bahan Dadih

Perlakuan

Warna

Aroma

Tekstur

Berat

a gram

b gram

4 hari

+

++

+

37,44

28,28

7 hari

++

+++

++

33,58

28,69

8 hari

++

++++

+++

38,14

30,53

 

Keterangan:

Warna              : semakin + semakin pekat/ gelap

Aroma             : semakin + semakin menyengat

Tekstur            : semakin + semakin kenyal

 

4.2  Hasil Perhitungan

  1. Perhitungan KKK Lateks Segar

Perlakuan

A gram

B gram

Nilai KKK

+ asam format

22,44

15,96

15,74

+ asam asetat

20,82

14,71

14,78

 

  1. Pengenceran Lateks

Perlakuan

AT

Pengenceran lateks

26 ml

 

  1. Pengaruh Penambahan Bahan Dadih

Hari ke-

FP (%)

KKK (%)

4

24,47

28,28

7

14,56

28,69

8

19,95

30,53

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5. PEMBAHASAN

 

5.1 Fungsi dan Penentuan Nilai KKK dan AT

Tujuan dari pengenceran lateks dalam praktikum kali ini adalah untuk  menjaga agar kadar karet kering (KKK) lateks sewaktu diolah dapat dipertahankan selalu tetap. Serta untuk mengetahui berapa kadar air yang dipelukan untuk mengencerkan lateks secara tepat.

Penentuan AT ini berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah air yang ditambahkan sehingga KKK-nya seragam dan memiliki mutu yang tetap atau bisa dikatakan untuk menentukan jumlah air pada waktu pengenceran lateks.

5.2 Prinsip Analisa

            Prinsip analisa yang pertama adalah perhitungan KKK lateks segar dengan menambahkan asam format dan asam aseta untuk mempercepat proses penggumpalan.

            Prinsip analisa yang kedua adalah pengenceran lateks untuk mendapatkan KKK lateks tertentu dengan menggunakan aquades untuk menentukan jumlah air yang diperlukan untuk pengenceran.

            Sedangkan prinsip analisa yang ketiga adalah pengaruh penambahan bahan dadih dimaksudkan untuk memisahkan antara fraksi serum dengan dadihnya. Dalam pemisahan dua fraksi ini menggunakan CMC 1% yang akan mempercepat naik butir karet sehingga dalam beberapa waktu butir karet akan terpisah dan terkumpul dibagian atas cairan dan serumnya berada dibawah dengan lama pemisahan 3-4 hari.

 

5.3 Mekanisme Terjadinya Koagulasi Lateks dengan Penambahan Asam Asetat dan Asam Format

Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan karena adanya gaya grafitasi. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering. Jumlah tersebut dapat diperbesar jika di dalam lateks telah ditambahkan zat antikoagulan sebelumnya. Penggunaan asam format didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi kebun dan petani karet dibandingkan bahan koagulan asam lainnya.

Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4,5-4,7. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH- pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks. Penambahan larutan asam diikuti dengan pengadukan agar tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu mempercepat proses pembekuan. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara yang dapat mempegaruhi mutu sit yang dihasilkan. Kecepatan penggumpalan dapat diatur dengan mengubah perbandingan lateks, air dan asam sehingga diperoleh hasil bekuan atau disebut juga koagulum yang bersih dan kuat. Lateks akan membeku setelah 40 menit. Proses selanjutnya ialah pemasangan plat penyekat yang berfungsi untuk membentuk koagulum dalam lembaran yang seragam (Suseno, 1989).

 

5.4 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan

            Dalam praktikum pengolahan lateks ini dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama yaitu perhitungan KKK lateks segar, pertama-tama 100ml lateks segar ditambahkan asam format dan asam asetat masing-masing 1% 10ml, fungsi ditambahkan asam format dan asam asetat adalah untuk mempercepat proses penggumpalan. Kemudian dipanaskan dan diaduk perlahan hingga menggumpal dan digiling utuk memperluas permukaan dan mempercepat proses pengeringan lateks. Setelah itu dikeringanginkan untuk mengurangi kadar airnya. Setelah dikeringanginkan, ditimbang berat basah (a gram) dan dioven selama 1 hari dengan suhu 500C berfungsi untuk mengurangi kadar air bahan dan ditimbang sebagai berat kering (b gram). Kemudian ditentukan FP dan KKK nya.

            Tahap kedua yaitu pengenceran lateks, 200 ml lateks segar disaring untuk memisahkan kotoran dengan lateks yang akan digunakan. Kemudian ditambah air sesuai dengan rumus AT. Penambahan air ini berujuan untuk mengencerkan lateks.

            Tahap ketiga yaitu pengaruh penambahan bahan dadih, 300 ml lateks disaring yang berfungsi untuk memisahkan kotoran yang ada dalam lateks. Kemudian dibagi menjadi tiga yaitu 4 hari, 7 hari, dan 8 hari sebagai pembanding yang nantinya dapat diketahui dari ketiga perlakuan tersebut mana yang memiliki warna, tekstur, dan aroma yang paling baik. Kemudian ditambahkan CMC 1% sebanyak 10 ml pada masing-masing perlakuan. Penambahan CMC ini berguna untuk memisahkan lateks menjadi dua fraksi yaitu serum dan dadih. Lalu dilakukan pengadukan agar bercampur merata antara lateks dan CMC. Setelah itu didiamkan selama 4, 5, 6 hari dan diamati warna, tekstur, aroma serta ditentukan KKK-nya.

 

5.5 Analisis Data

            Dari hasil perhitungan KKK dan AT. Sebelum melakukan perhitungan KKK, terlebih dahulu dihitung faktor pengencerannya (FP). Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, didapat hasil nilai FP pada penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 28,9% dan 29,35%. Dan untuk perhitungan KKK dari penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 15,95% dan 14,71%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam format sebagai bahan penggumpal lebih baik daripada penambahan asam asetat karena KKKnya lebih besar. Karet yang belum dikeringkan memiliki aroma yang sangat menyengat, tetapi setelah dikeringkan aroma ini akan memudar. Hal ini terjadi karena selama proses pengeringan terjadi penguapan senyawa volatil yang memberikan aroma yang menyengat.

            Pada perhitungan pengenceran lateks dengan KKK 17 dan KE 15, didapat nilai AT sebesar 26 ml. Pengenceran lateks bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak air yang dibutuhkan berdasarkan jumlah lateks yang akan diencerkan. Pengenceran ini penting karena untuk menjaga agar kadar karet kering selalu tetap meskipun sudah diolah.

            Pada hasil perhitungan pengaruh penambahan bahan dadih, untuk perlakuan 4 hari dihasilkan warna yang cerah, aroma yang kurang menyengat, tekstur kurang kenyal, FP 24,47%, dan KKK sebesar 28,28%. Untuk perlakuan 7 hari memiliki warna agak gelap, aroma menyengat, tekstur kenyal, FP 14,56%, dan KKK sebesar 28,69%. Untuk perlakuan 8 hari didapatkan warna agak gelap, aroma sangat menyengat, tekstur sangat kenyal, FP 19,95%, dan KKK sebesar 30,53%. Dari sini dapat diketahui bahwa semakin lama penyimpanan akan mempengaruhi warna, tekstur, dan aroma. Semakin lama penyimpanan warnanya semakin gelap, aroma semakin menyengat, dan tekstur semakin kenyal. KKK tertinggi yaitu pada penyimpanan 8 hari dengan KKK sebesar 30,53%. Ini berarti bahwa semakin lama penyimpanan nilai KKK akan semakin besar dan mutu karet akan semakin baik.

 

 

 

 

BAB 5. PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

            Dari hasil pengamatan dan perhitungan dapat disumpulkan bahwa:

  • Lateks adalah suatu istilah yang dipakai untuk menyebut getah yang dikeluarkan oleh pohon karet.
  • Karet mempunyai sifat kenyal (elastis), sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Lateks sendiri membeku pada suhu 32oF karena terjadi koagulasi.
  • Lateks mengandung 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-77 % serum (air dan zat yang larut). Karet mentah mengandung 90-95 % karet murni, 2-3 % protein, 1-2 % asam lemak, 0,2 % gula, 0,5 % garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara merata)dalam serum lateks dengan ukuran 0,004-3 mikron, atau 0,2 milyar partikel karet per millimeter lateks.
  • Penentuan KKK ini berfungsi untuk mengetahui kadar kering lateks yang digunakan untuk menentukan penerimaan lateks kebun. Sedangkan penentuan AT  berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah air yang ditambahkan sehingga KKK-nya seragam.
  • Pada perhitungan KKK dari penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 15,95% dan 14,71%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam format sebagai bahan penggumpal lebih baik daripada penambahan asam asetat karena KKKnya lebih besar.
  • Pengenceran lateks bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak air yang dibutuhkan berdasarkan jumlah lateks yang akan diencerkan. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai AT 26 ml.
    • KKK tertinggi yaitu pada penyimpanan 8 hari dengan KKK sebesar 30,53%. Ini berarti bahwa semakin lama penyimpanan nilai KKK akan semakin besar dan mutu karet akan semakin baik.

 

6.2 Saran

            Terima kasih kakak2 asisten TOGEL yang telah menjadi asisten yang sabar dan baik dibandingkan asisten yang lain.

Hehehe …..

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Pengolahan Hasil Pertanian Tembakau, Gula dan Lateks. Jember: THP FTP UNEJ

 

Djumarti, Ir. 2011. Handout Kuliah Teknologi Pengolahan Lateks. Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Jember

 

Goutara, B. Djatmiko, W. Tjiptadi. 1985. Dasar Pengolahan Karet. Bogor: IPB.

 

Habibie. 2009. Mengenal Tanaman Karet. http://habibiezone.wordpress.com/2009/12/07/mengenal-tanaman-karet/

(diakses tanggal 15 Desember 2011).

 

Nopianto, Eko. 2009. Karet Alam. http://eckonopianto.blogspot.com/karet-alam.html

            (Diakses tanggal 18 Desember 2011).

 

Suseno,RS. Suwarti. 1989. Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sheet yang Diasap. Bogor: Balai Penelitian Perkebunan Bogor.

 

 

 

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Asam Asetat ( Acetic Acid, Ethanoic Acid, Methyl Carboxylic Acid ) adalah senyawa kimia dengan rumus molekul CH3COOH, berupa cairan jernih tidak berwarna, berbau tajam, dan berasa asam. Bahan kimia ini memiliki titik didih sekitar 117,9° C pada tekanan 1 atm, dan pada konsentrasi tinggi akan menimbulkan korosi pada berbagai jenis logam.

Industri asam asetat merupakan salah satu industri kimia yang berprospek di Indonesia. Kebutuhan asam asetat di dalam negeri terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan oleh industri penggunanya. Meningkatnya kebutuhan asam asetat ini belum dapat dipenuhi seluruhnya oleh satu-satunya produsen lokal, yaitu PT Indo Acidatama Chemical Industry, sehingga ketergantungan terhadap impor dari tahun ke tahun semakin naik.

 

1.2       Tujuan

            Mengetahui proses metabolit mikroba oleh mikroba Acetobacter acetii

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2. PEMBAHASAN

 

2.1       Pendahuluan Meta­­bolit (Asam Asetat)

            Fermentasi merupakan proses mikrobiologi yang dikendalikan oleh manusia untuk memperoleh produk yang berguna, dimana terjadi pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerob. Peruraian dari kompleks menjadi sederhana dengan bantuan mikroorganisme sehingga menghasilkan energi. (Perry, 1999)

            Industri fermentasi di negara-negara maju sudah berkembang sedemikian pesatnya, termasuk dalam produksi hasil-hasil pemecahan atau metabolit primer oleh mikroba (asam, asam amino, alkohol), hasil metabolit sekunder (antibiotik, toksin), produksi masa sel (protein sel tunggal), enzim, dan sebagainya. Mikroba yang umum digunakan dalam industri fermentasi termasuk dalam bakteri dan fungi tingkat rendah yaitu kapang dan khamir.

            Berdasarkan Silcox dan Lee, proses fermentasi yang baik adalah:

  1. Mikroorganisme dapat membentuk produk yang diinginkan
  2. Organisme ini harus berpropagasi secara cepat dan dapat mempertahankan

      keseragaman biologis, sehingga memberikan yield yang dapat diprediksi.

  1. Raw material sebagai substrat ekonomis
  2. Yieldnya dapat diterima
  3. Fermentasi cepat
  4. Produk mudah diambil dan dimurnikan

            Acetobacter aceti digunakan untuk memproduksi asam asetat dari alkohol. Sel ini merupakan gram negative, berbentuk batang (0,5-1,5 µm), berbentuk sel tunggal, berpasangan atau berantai. Sel ini bersifat obligat aerob, katalase positif, mengoksidasi etanol menjadi asam asetat dan asam laktat serta CO2 dan H2O. tumbuh optimum pada suhu antara 25-30oC. Secara alami terdapat pada buah, sake, palm wine, cider, beer, batang tebu, tanah, dan jamur teh.

            Acetobacter aceti merupakan bakteri gram negatif yang bersifat motil dengan peritrichous flagella, obligat aerob dan tidak membentuk endospora. Bakteri ini ada dimana-mana dalam lingkungan, dalam tanah, air, bunga, buah-buahan, dan pada lebah madu atau di mana saja terjadi fermentasi gula. A.aceti menghasilkan asam cuka dari etanol dalam minuman beralkohol. Asam cuka dan laktat dioksidasi menjadi COdan H2O oleh bakteri tersebut. Acetobacter aceti, A.pasteurianusdan Gluconobacter oxydans digunakan secara komersial untuk pembuatan cuka.

            Asam asetat, asam etanoat  atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.

            Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalatselulosa asetat, danpolivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industry petrokimia maupun dari sumber hayati.

            Asam asetat memiliki beberapa nama antara lain asam etanoat, vinegar (mengandung minimal 4 gram asam asetat per 100 larutan), atau asam cuka. Asam asetat merupakan senyawa organik yang mengandung gugus asam karboksilat. Rumus molekul dari asam asetat adalah C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat memiliki sifat antara lain (Perry, 1999).

  • Ø Berat molekul 60,05
  • Ø berupa cairan jernih (tidak berwarna)
  • Ø berbau khas
  • Ø mudah larut dalam air, alkohol, dan eter
  • Ø larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah (korosif)
  • Ø asam asetat bebas-air membentuk kristal mirip es pada 16,7°C, sedikit di     bawah suhu ruang
  • Ø mempunyai titik didih 118,1 oC
  • Ø mempunyai titik beku 16,7 oC
  • Ø Spesific grafity 1,049

 

2.2       Proses Produksi

  • Ø Produksi asam asetat dengan cara :
  1. Fermentasi Aerob

 

 
 

       Acetobacter aceti

 

 

C6H12O6                 2 C2H5OH                       2 CH3COOH + H2O + 116 kal

       glukosa                  etanol                                            cuka asam cuka

  1. Fermentasi Anaerob

 

 
 

       Clostridium thermoaceticum

 

 

C6H12O6                                                      CH3COOH      +   Q

glukosa                                   cuka asam cuka

  • Ø Proses fermentasi pembuatan asam asetat atau vinegar :

A).     Fermentasi secara Aerob

  1. Metoda lambat (Slow Methods)

–          Biasanya untuk bahan baku berupa buah-buahan

–          Etanol tidak banyak bergerak atau mengalir karena proses dilakukan pada suatu tangki batch

–          Memasukan jus buah, yeast, dan bakteri vinegar  ke dalam tangki

–          Sebagian jus buah terfermentasi menjadi etanol (11-13 % alkohol) setelah beberapa hari

–          Fermentasi etanol menjadi asam asetat terjadi pada permukaan tangki

–          Bakteri vinegar di permukaan larutan yang membentuk lapisan agar-agar tipis mengubah etanol menjadi asam asetat atau vinegar (asetifikasi)

–          Proses ini memerlukan temperatur 21- 29 oC

–          Jatuhnya lapisan tipis agar-agar dari bakteri vinegar akan memperlambat asetifikasi. Permasalahan ini bisa dicegah dengan memasang lapisan yang dapat mengapungkan lapisan tipis agar-agar dari bakteri vinegar

  1. Metoda cepat (Quick Methods) atau German process

–          Biasanya untuk bahan baku berupa etanol cair

–          Bahan baku untuk basis 1 ton asam asetat(100%) :

  • Alkohol(95 %) sebanyak 1.950 lb
  • Sedikit nutrisi
  • Udara sebanyak 11.000 lb

–          Etanol mengalami perpindahan selama proses

–          Proses fermentasi terjadi di dalam tangki pembentukan (Frings generator) yang terbuat dari kayu atau besi.

–          Bagian-bagian dari tangki pembentukan :

a)      Bagian atas, tempat alkohol dimasukkan

b)      Bagian tengah, terdapat bahan isian (berupa: kayu, tongkol jagung, rottan) di bagian ini untuk memperluas bidang kontak rektan (etanol dan oksigen). Bahan isian mula-mula disiram dengan larutan vinegar yang mengandung bakteri asetat sehingga dipermukaan bahan isian akan tumbuh bakteri asetat.

c)      Bagian bawah, digunakan sebagai tempat mengumpulkan produk vinegar.

–          Mendistribusikan campuran etanol cair (10,5 %), vinegar(1 %), dan nutrisi   melalui bagian atas tangki dengan alat sparger

–          Campuran mengalir turun melalui bahan isian dengan sangat lambat

–          Udara dialirkan secara countercurrent melalui bagian bawah tangki

–          Panas yang timbul akibat reaksi oksidasi diambil dengan pendingin. Pendingin dipasang pada aliran recycle cairan campuran(yang mengandung vinegar,etanol, dan air) dari bagian bawah tangki. Temperatur operasi dipertahankan pada rentang suhu 30-35 oC

–          Produk yang terkumpuk di bagian bawah tangki mengandung asam asetat optimum sebesar 10- 10,5 %. Sebagian produk direcycle dan sebagian yang lain di keluarkan dari tangki

–          Bakteri asetat akan berhenti memproduksi asam asetat jika kadar asam asetat telah mencapai 12-14 %

–          Bahan baku 2.500 gal dengan produk 10,5 % asam asetat memerlukan waktu proses 8-10 hari

  1. Metoda Perendaman (Submerged Method)

–          Umpan yang mengandung 8-12 % etanol diinokulasi dengan Acetobacter acetigenum

–          Temperatur proses dipertahankan pada rentang suhu 24-29 oC

–          Bakteri tumbuh di dalam suspensi antara gelembung udara dan cairan yang difermentasi

–          Umpan di masukan melewati bagian atas tangki

–          Udara didistribusikan dalam cairan yang difermentasi sehingga membentuk gelembung- gelembung gas. Udara keluar tangki melewati pipa pengeluaran di bagian atas tangki

–          Temperatur proses dipertahankan dengan menggunakan koil pendingin stainless steel yang terpasang di dalam tangki

–          Defoamer yang terpasang di bagian atas tangki membersihkan busa yang terbentuk dengan sistem mekanik

B).      Fermentasi secara Anaerob

–          Menggunakan bakteri Clostridium thermoaceticum

–          Mampu mengubah gula menjadi asam asetat

–          Temperatur proses sekitar 45- 65 oC; pH 2-5

–          Memerlukan nutrisi yang mengandung karbon, nitrogen dan senyawa anorganik

 

2.3       Manfaat Asam Asetat

Beberapa kegunaan asam asetat atau vinegar adalah sebagai berikut :

1. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena                           tereftalat, selulosa   asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam                          serat dan kain.

2. Pengatur keasaman pada industri makanan

3. Pelunak air dalam rumah tangga

4. Minuman fungsional misal: cuka apel

5. Sebagai bahan baku untuk pembuatan bahan kimia lain :

–           Vinil asetat

–           Selulosa asetat

–           Asetat Anhidrit

–           Ester Asetat

–           Garam Asetat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3.PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Berdasarkan hasil pembahasan mengenai proses metabolit mikroba oleh mikroba Acetobacter acetii dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu:

1. Fermentasi merupakan proses mikrobiologi yang dikendalikan oleh manusia untuk memperoleh produk yang berguna, dimana terjadi pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerob

2. Asam asetat, merupakan senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan

3. Rumus molekul dari asam asetat adalah C2H4O2.

4. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO

5. Terdapat beberapa cara produksi asam asetat yaitu dengan fermentasi aerob, fermentasi anaerob

6. Salah satu kegunaan asam asetat atau vinegar adalah pengatur keasaman pada industri makanan

 

3.2 Saran

            Diharapkan dapat memberi ilmu pengetahuan bagi mahasiswa mengenai proses metabolit mikroba oleh mikroba Acetobacter acetii dan kegunaan asam asetat dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2008. Asam Asetat. http://kimiadotcom.wordpress.com/2008/08/22/asam-asetat/ (diakses           tanggal 4 Oktober 2011).

Bagas. 2010. Pembuatan Asam Asetat.          http://bagasvanirawan.wordpress.com/2010/07/20/pembuatan-asam-asetat/ (diakses tanggal 4 Oktober 2011).

Frazier. 1978. Food Microbiology. Amerika. McGraw-Hill.

Perry. 1999. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook. Amerika. McGraw-Hill.

Sarah. 2010. Asam Asetat. http://sarahsaruchan.blogspot.com/2010/03/asam-           asetat.html (diakses tanggal 4 Oktober 2011).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PAPER

PROSES METABOLIT MIKROBA OLEH MIKROBA ACETOBACTER ACETII

 

Disusun oleh:

                                    Yuanita Harmoni        (091710101003)

                                    Agustia Dwi P                        (091710101006)

                                    Milla Maulida              (091710101010)

                                    Niken Permata Dewi   (091710101013)

                                    Ratna Windari             (091710101050)

                                    Amelia Puspitasari      (091710101054)

                                    Mey Lindah Sari         (091710101058)

 

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2011

 

Image

 

Panen raya durian menyebabkan melimpahnya buah durian di sentra durian di kalimatan Tengah. Selain dijual dalam bentuk segar, masyarakat mengolah daging durian menjadi dodol durian (lempok), sedangkan biji durian belum termanfaatkan. Padahal biji durian mengandung tepung, protein, dan lemak sehingga dimungkinkan dapat diolah menjadi produk pangan. Banyak produk yang sebenarnya dapat dihasilkan dari biji durian. Biji durian dapat menghasilkan tepung sebagai substitusi tepung terigu, selain itu biji durian dapat diolah menjadi keripik. Keripik durian belum beredar di pasaran sehingga diharapkan dengan pengolahan biji durian dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani durian.

Berikut adalah link download Pembuatan kripik dari Biji Durian

link 1

 

  1. 1.    Pembuatan Tepung jagung.

Tepung jagung merupakan bahan baku pembuatan berbagai produk olahan berbahan dasar jagung.   Pembuatan tepung jagung sangat sederhana sehingga bisa dilakukan dengan peralatan skala rumah tangga.  Adapun cara pembuatan tepung jagung adalah sebagai berikut :

  • Pilih jagung pipilan yang sudah kering kemudian dilakukan sortasi untuk mendapatkan jagung  yang bersih dan terbebas dari kotoran
  • Lakukan penggilingan kemudian hasil yang didapatkan diayak dengan ayakan ukuran 1,5 mm.  Yang lolos ayakan digunakan sebagai dedak sedangkan yang tidak lolos disebut sebagai beras  jagung yang akan diolah menjadi tepung jagung.
  • Beras jagung ditampi kemudian hasil tampiannya direndam dengan air selama 2 jam
  • Setelah itu ditiriskan dan lakukan pengeringan
  • Setelah kering dilakukan dengan penggilingan dan hasil penggilingan diayak dengan ayakan ukuran 100 mesh.
  • Hasil ayakan sudah merupakan tepung jagung yang siap untuk dikemas/dipasarkan

 

  1. 2.    Pembuatan dodol jagung
  • Rebus jagung muda dan setelah dingin dipipil
  • Timbang 250 gram jagung pipilan lalu diblender dengan penambahan air sekitar 200 cc air untuk memudahkan penghancuran
  • Masak bubur jagung dengan penambahan 100 gram kelapa yang sudah diparut/dikukur (sekitar ¼ buah kelapa), 10 gram tepung terigu, 150 gram gula pasir, 2 bungkus vanile (satu sendok teh), 1 sendok teh garam dan sekitar 400 cc air
  • Lakukan pemasakan dengan api sedang
  • Pemasakan dihentikan setelah adonan mengeras yang ditandai dengan munculnya sedikit minyak/warna mengkilat pada adonan, dan adonan menggumpal utuh dan mudah lepas dari wadah pemasakan
  • Masukkan adonan pada wadah dan dinginkan
  • Setelah dingin lakukan pemotongan sesuai ukuran yang diinginkan
  • Lakukan pengeringan (bisa juga dengan penjemuran)
  • Lakukan pengemasan

 

  1. 3.    Pembuatan Jus jagung.
  • Pilih jagung yang baru dipanen dan biasa digunakan untuk jagung rebus.  Ambil yang agak tua kemudian dibuang kulitnya dan direbus (usahakan perebusan dalam keadaan terendam sempurna oleh air rebusan).
  • Setelah selesai perebusan didinginkan kemudian dipipil.
  • Timbang hasil pipilan sebanyak 250 gram.
  • Hasil pipilan dihancurkan (bisa menggunakan blender). Pada penghancuran ini tambahkan air putih yang telah dimasak sebanyak 1 liter (penambahan air secara bertahap agar penghancuran sempurna)
  • Jagung yang telah hancur merata disaring kemudian air hasil saringan ditambahkan gula pasir sebanyak 150 gram (atau menurut selera masing-masing).
  • Jus jagung siap disajikan (boleh ditambahkan dengan es batu)

 

  1. 4.    Pembuatan Sirup jagung
  • Pilih jagung yang baru dipanen dan biasa digunakan untuk jagung rebus.  Ambil yang agak tua kemudian dibuang kulitnya dan direbus (usahakan perebusan dalam keadaan terendam sempurna oleh air rebusan).
  • Setelah selesai perebusan didinginkan kemudian dipipil.
  • Timbang hasil pipilan sebanyak 250 gram
  • Hasil pipilan dihancurkan (bisa menggunakan blender).   Pada penghancuran ini tambahkan air sebanyak 150 ml (penambahan air secara bertahap agar penghancuran sempurna)
  • Jagung yang telah hancur merata disaring kemudian air hasil saringan ditambahkan gula pasir sebanyak 150 gram (atau menurut selera masing-masing).
  • Lakukan pemasakan sampai mendidih
  • Lakukan pembotolan (untuk sterilisasi, sebaiknya botol yang sudah berisi sirup jagung dipanaskan/direbus  sekitar lima menit).
  1. 5.    Pembuatan Tortila
  • Jagung pipilan sebanyak 1 kg direbus dalam 10 liter air kapur  2- 4% selama 2 – 2,5 jam, kedalamnya juga ditambahkan garam sebanyak 50 gram dan 1 sendok makan minyak goreng.
  • Selanjutnya hasil rebusan jagung direndam dalam air perebusan selama 1 malam.  Selama perendaman   dilakukan pengadukan beberapa kali.
  • Setelah perendaman cuci jagung dengan air bersih berulang kali untuk menghilangkan sisa-sisa kapur, kemudian tiriskan.
  • Jagung digiling sampai terbentuk adonan.  Kemudian tambahkan garam, 1 buah kuning telur dan bumbu bumbu lain (bawang putih) secukupnya, boleh juga ditambah dengan irisan seledri, dan cabe giling.
  • Adonan dipipihkan dengan ketebalan 1 – 3 cm (boleh menggunakan ampia atau digiling dengan kayu bulat di atas meja yang dialas dengan plastik).
  • Adonan yang berbentuk lembaran diiris dengan ukuran 3 x 4 cm.
  • Lakukan pengeringan  dioven  atau bisa juga dijemur dengan sinar matahari  dan kemudian digoreng.
  • Penggorengan dilakukan dengan minyak panas sampai bewarna kuning kecoklatan.   Setelah digoreng lakukan penirisan minyak.
  • Tortila jagung dikemas dalam kantong plastik kemudian dikemas dengan plastic sealer.

 

  1. 6.    Pembuatan emping jagung
  • Cuci 1 kg jagung pipilan kering dan rebus dalam air kapur selama 3 jam         ( 5  liter air tambahkan 25 gram kapur)
  • Setelah perebusan jagung dicuci untuk menghilangkan kapurnya lalu direndam dengan air biasa selama  1 malam (sekitar 12 jam)
  • Kukus/rebus selama 1 jam, setelah itu dikeringkan/dijemur sekitar 2  jam
  • Pipihkan dengan alat penggiling
  • Rendam dengan larutan bumbu selama 15 menit.   (Larutan bumbu: 1 liter air dicampurkan  dengan 5 siung bawang putih yang sudah dihaluskan dan 25 gram garam)
  • Lanjutkan pengeringan (penjemuran) sampai kering sempurna
  • Setelah kering sempurna lakukan penggorengan.

 

  1. 7.    Pembuatan cake jagung
  • Jagung muda dipipil sehingga diperoleh 250 gram jagung pipilan.
  • Hancurkan dengan blender kemudian dicampur merata dengan 100 gram gula pasir, 100 gram terigu,  150 gram mentega, 3 butir telur ayam  yang telah dikocok  serta  ¼ kaleng susu kental manis
  • Olesi cetakan dengan  mentega kemudian masukkan adonan ke dalam cetakan tersebut.
  • Masukkan kedalam oven dan dimasak sampai bewarna kuning agak kecoklatan

 

  1. 8.     Pembuatan Jeli  jagung
  • 4 buah jagung muda direbus sampai matang, setelah dingin dipipil.
  • Siapkan 2,5 liter air.
  • Jagung ditambah dengan sedikit air yang telah disiapkan dan dihancurkan dengan blender.
  • Hancuran jagung disaring dan hasil saringan ditambah dengan  300 gram gula pasir dan sisa air yang 2,5 liter.
  • Sementara itu 100 gram gula pasir diaduk dalam gelas dengan 1 sendok makan  tepung jeli, garam,  lalu dicampurkan ke dalam hancuran jagung dan dimasak sampai mendidih.
  • Lakukan pengemasan dengan menggunakan cup plastik (cup es krim) dan dinginkan

dikutip dari sumber

Image

 

1. Alat

a. Panci/Langseng dari stenless
b. Pengaduk/sinduk stenless
c. Kompor
d. Timbangan duduk
e. Gelas ukur
f. Baki plastik
g. Koran penutup
h. Karet pengikat
i. Rak untuk Baki Plastik
j. Muk Ukur
k. Kain Kassa/Saringan Halus

2. Bahan
a. Air Kelapa murni
b. Gula Pasir/putih
c. Za/Urea
d. Cuka Biang
e. Bibit Nata De Coco/Sari Kelapa

Cara Membuat

1. Air kelapa mentah di saring, dan dimasukkan ke dalam dandang/panci ukuran 5 liter/20 liter di masak sampai mendidih 100 derajat celcius, setelah mendidih masukkan gula pasir, untuk dandang/panci 5 liter gula 250 gr, za 0,5 gr, cuka biang 50 cc dan untuk dandang 20 liter x 4 dari dandang/panci 5 liter.
2. Air kelapa yang sudah mendidih yang dicampur dengan gula, za, cuka biang masukan ke dalam baki plastik kira 1,2 liter dan harus dipastikan bahwa baki plastik dalam kondisi bersih dan steril dari bakteri.
3. Baki plastik ditutup dengan menggunakan koran dan pastikan koran pun dalam kondisi steril dari bakteri yang akan mengganggu pertumbuhan nata de coco/sari kelapa, koran harus dijemur dipanas matahari.
4. Baki-baki ditutup rapat dan disusun di atas rak baki secara rapi dan ditiriskan sampai dingin untuk diberi bibit nata de coco
5. Pembibitan dilakukan pada pagi hari sekitar jam 5.30-6.30, hasil pembibitan ditutup kembali
6. Baki hasil pembibitan tidak boleh terganggu apapun, tidak digoyang-goyang, bila ingin melihat hasil nata de koko bisa dilihat pada hari ke 3.
7. Baki hasil pembibitan di biarkan selama satu minggu
8. Pada hari ke 7 silakan dibuka.

Image

Panen

Panen nata de coco/sari kelapa dapat dinikmati pada hari ke 7.

Ciri nata de coco yang baik permukaan rata dan halus.
Apabila dari hasil tersebut di permukaannya ada yang berlubang, seperti sisa gunung berapi maka itu dimungkinkan karena baki atau koran yang tidak steril.

Image

dikutip dari sumber

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!